Menyemai Harapan di Rimbang Baling

By Trip Riau  |  20 Oktober 2016 10:27:37 WIB  |  Wisata Riau

Rimbang Baling berada di Desa Tanjung Belit Kampar Kiri, sekitar 90 km dari Pekanbaru. (Natalina Pakpahan / tripriau.com)

TRIPRIAU.com - Riau memiliki kawasan hutan yang membentang luas. Sebagian besar kawasan hutan sudah dialih fungsikan menjadi perkebunan sawit dan karet. Meskipun begitu, dibeberapa tempat masih terdapat kawasan hutan lindung, salah satunya Bentang Alam Rimbang Baling.

Rimbang Baling berada di Desa Tanjung Belit Kampar Kiri, sekitar 90 km dari Pekanbaru. Kawasan suaka margasatwa dengan luas sekitar 200 hektar merupakan salah satu kantong populasi terbesar Harimau Sumatera di Indonesia.

Perjalanan dari Desa Tanjung Belit dilanjutkan dengan menaiki piyau (perahu kayu) menyeberangi sungai Sebayang menuju kawasan Rimbang Baling.

Rasa lelah terbayar dengan pemandangan yang disuguhkan selama menaiki piyau. Barisan pohon yang berdiri kokoh di bukit membawa keteduhan dengan hamparan hijaunya. Air sungai yang jernih memantulkan batu-batu di dasarnya. Sesekali di kejauhan terdengar kicauan burung dan teriakan ungko.

Dari atas piyau, kita bisa melihat semacam tali yang terentang melintasi sungai di antara dua daratan. Inilah yang merupakan tanda Lubuk Larangan. Lubuk Larangan merupakan kearifan lokal untuk menjaga keseimbangan dan pelestarian alam setempat.

Area di Lubuk Larangan tidak boleh diambil ikannya sebelum waktu yang ditentukan untuk panen bersama. Sungguh sebuah kearifan lokal yang dapat menginspirasi kita semua.

Sesampainya di pintu masuk kawasan Rimbang Baling, kita akan menemukan sebuah bangunan rumah panggung besar yang dilengkapi fasilitas. Ini merupakan fasilitas WWF yang dibangun sebagai tempat tinggal mereka yang berkunjung, seperti peneliti, pihak WWF maupun relawan yang datang.Perjalanan dari Desa Tanjung Belit dilanjutkan dengan menaiki piyau (perahu kayu) menyeberangi sungai Sebayang menuju kawasan Rimbang Baling (Natalina Pakpahan / tripriau.com)

Kawasan Rimbang Baling terkenal sebagai pusat penelitian habitat Harimau Sumatera. Untuk mendukung program ini, sejak 2 tahun terakhir pihak WWF membuka ekowisata minat khusus. Jadi, masyarakat sekitar sudah cukup akrab dengan keberadaan harimau. Harimau dikenal dengan panggilan si datuk belang.

Harimau Sumatera merupakan salah satu spesies harimau yang bertahan hidup hingga saat ini dan termasuk dalam klasifikasi satwa kritis yang terancam punah.

Rafselia Novalina, salah satu staff WWF menjelaskan, bahwa ekowisata minat khusus ini merupakan wisata yang ditujukan bagi orang-orang yang tertarik tentang penelitian Harimau Sumatra.

“Untuk ekowisata minat khusus ini, siapa aja dari seluruh dunia yang tertarik dengan penelitian Harimau Sumatra, mereka akan bergabung dengan Biosphere Ekspedisi. Jadi selama 10 hari mereka akan tinggal di sini melakukan penelitian bagaimana kehidupan Harimau Sumatera. Juga mamalia lainnya dibantu dengan kamera trap,’’ ungkap Rafselia.

Selain fasilitas untuk tinggal, di kawasan ini WWF juga menyediakan sebuah gedung laboratorium. Diharapkan ke depannya, Laboratorium ini akan menjadi pusat penelitian air tawar dan pusat informasi tentang air yang bisa dimanfaatkan orang banyak.

Rimbang Baling merupakan suaka margasatwa yang masih memiliki cukup banyak spesies langka yang dilindungi. Kawasan ini memiliki kekayaan hayati, seperti jenis tumbuhan langka, mempening, mersawa, kempas, keranji, kulim, pulai, kuranji dan lain-lain.

Terdapat 170 lebih jenis burung, dan 50 jenis mamalia termasuk tapir, rusa, kukang, siamang, ungko, simpai, beruang madu, ajak, kambing hutan serta lima jenis kucing berbagai ukuran, seperti harimau sumatra, macan dahan, kucing emas, kucing hutan, dan kucing batu.

Berkunjung ke bentang alam Rimbang Baling ini menyadarkan kita betapa pentingnya kesadaran untuk menjaga lingkungan. Ada harapan besar di balik Rimbang Baling ini, keberlangsungan ekosistem dan lingkungan hidup ada di suaka margasatwa yang masih asri ini.

Sebagai masyarakat kita hanya dituntut untuk mengurangi gaya hidup konsumtif yang tidak ramah lingkungan, serta berkontribusi mengampanyekan perlindungan satwa dan habitatnya.

 

Penulis : Natalina Pakpahan

Editor: Rio Sunera



Tags:  -