Food Story

Rahasia Kelezatan Rujak Bu Ade yang Legendaris

By Trip Riau  |  20 Oktober 2016 12:50:35 WIB  |  Culinary

Rujak Bu Ade yang berada di lampu merah jalan Melur, samping kantor Dinas Kesehatan Kota Pekanbaru ini memiliiki rasa khas dengan kuah kacang yang kental. (Tresia Marbun / tripriau.com)

TRIPRIAU.com - Rujak adalah salah satu makanan tradisional khas Indonesia. Beragam jenis rujak dengan aneka bumbu bisa ditemukan hampir di setiap daerah. Hanya saja rasa dari bumbu tidak semua sama, apalagi racikannya disesuaikan dengan tempat asal rujak tersebut.

Di Pekanbaru terdapat rujak legendaris yang sudah ada sejak 32 tahun lalu. Rujak legendaris ini memiliki rasa khas dengan kuah kacang yang kental.

Di tengah cuaca panas di Pekanbaru,  rujak legendaris ini merupakan pilihan yang paling tepat dinikmati selepas makan siang atau cemilan di sore hari.

Pemilik rujak, Ade (51), menuturkan dari awal pertama jualan setelah menikah sampai sekarang sudah bercucu tetap konsisten menjual rujak.

“Dulu mulai berjualan sekitar tahun 1984 masih baru menikah, dan sampai sekarang umur anak saya paling kecil sudah 21 tahun. Alhamdullilah masih berjualan,” ungkap Bu Ade.

Bu Ade menambahkan, ada beberapa pelanggan mereka yang dikenali sampai turun temurun masih membeli rujak dari bu Ade. “Waktu kami masih keliling jualannya, ibunya yang sering beli, kemudian anaknya.Dan sekarang cucunya juga tetap beli rujak ini, ada tuh beberapa pelanggan yang kayak gitu,” tutur Bu Ade.

Secara kasat mata, buah yang dicampur dalam rujak Bu Ade ini hampir sama dengan rujak pada umumnya. Ada buah pepaya, bengkoang, kedondong, mentimun, nenas, serta jambu air.

Namun, yang membedakan terletak di campuran bumbu kacangnya.Dimana Bu Ade menambahkan pisang mengkal sehingga rasanya enak di lidah, karena campuran asam pedas manisnya.

Karena lokasinya dekat dengan perkantoran Dinas Kesehatan Kota Pekanbaru dan Poltekes, jadi kebanyakan pelanggan Bu Ade adalah pegawai dan mahasiswa. “Biasanya pelanggan tetap kami, ya, pegawai kantor sini, kantor gubernur dan walikota juga sering mesan disini, tapi banyak juga orang-orang lewat beli,” jawab Bu Ade kepada tripriau.com beberapa waktu lalu. Rujak Bu Ade sudah ada sejak 32 tahun lalu. (Tresia Marbun / tripriau.com)

Menurut cerit Bu Ade, banyak pelanggan yang memesan rujak untuk dibawa sebagai ole-ole ke luar kota seperti Jakarta, Palembang, Lampung, Jambi, dan bahkan ada sampai ke luar negeri seperti Singapura, dan Malaysia. 

Zaskia, salah satu pelanggan Bu Ade yang kebetulan sedang membeli bercerita sudah berlangganan sejak 2008.Saat masih kuliah di Poltekes. “Saya dulu waktu masih mahasiswa tahun 2008 di Poltekes udah langganan kesini. Kebetulan saya kerja di Pelalawan tapi masih sering ke Pekanbaru, jadi masih sering beli disini,” ujarnya.

Saat ditemui, Zaskia bahkan memesan 8 bungkus rujak untuk dibawa sebagai ole-ole ke teman kantornya di Pangkalan Kerinci.

Perharinya, Bu Ade dapat menghabiskan sampai 30 kilogram buah. Omset yang didapat Bu Ade mencapai Rp 1,5 juta perhari.

Rujak bu Ade ini tidak pernah sepi dari pengunjung. Saban hari selalu dipadati oleh pengunjung setianya. Bahkan kadang-kadang pelanggan harus rela antri menunggu sampai 1 jam untuk mendapatkan rujak ini.

Rujak legendaris ini mulai buka dari pukul 10.30 pagi hingga pukul 5.30 sore, berlokasi di lampu merah Jalan Melur, samping kantor Dinas Kesehatan Kota Pekanbaru.

Penulis : Tresia Marbun

Editor: Rio Sunera



Tags:  -