Musik Jazz, Cara Riau Menjual Wisata Bono

By Trip Riau  |  21 November 2016 11:32:59 WIB  |  Wisata Riau

Jart Hassan dari Malaysia, Najib dari Bali, Hardy dari Medan dan beberapa musisi lokal Pekanbaru berkolaborasi menghibur para warga Teluk Meranti di acara Bono Jazz Festival 2016. (Muhammad Ridho / tripriau.com)

TRIPRIAU.com – Irama musik jazz mengalun indah di Teluk Meranti, sebuah desa kecil di Kabupaten Pelalawan, Riau. Di tepian Sungai Kampar. Memecah kesunyian malam di kampung yang tenar dengan fenomena Ombak Bono.

Malam itu, dipanggung sederhana dengan tenda berwarna biru, beberapa musisi jazz ambil bagian. Ada Jart Hassan dari Malaysia, Najib dari Bali, Hardy dari Medan, serta beberapa musisi lokal Pekanbaru.

Grup jazz Project Berdua langsung menghentak dengan suguhan musik instrumentalnya. Band asal Pekanbaru itu tampil memikat melalui karya musisi terompet asal Eropa, Roy Hargroofe. Rama, musisi berbakat dari Pekanbaru tampil energik dan mampu membius penonton dengan suara indah yang keluar dari saxophone-nya.

Tak lama berselang, Jart Hassan ikut tampil. Menyanyikan dua buah lagu berbahasa inggris, No Women No Cry dan Englishman in New York. Musisi dari negeri Jiran itu cukup interaktif, dengan beberapa kali mengajak penonton bernyanyi bersama.

Penampilan musik jazz ini menjadi bagian dari kegiatan Trip to Bono, dalam rangkaian event Bono Jazz Festival 2016. Kegiatan ini melibatkan empat komunitas mobil di Riau, yakni Pajero Sport Family, Riau Fortuner Hilux Club, Double Cabin Indonesia, dan Suzuki Katana Jimny Indonesia.

Acara ini juga dihadiri Kepala Dinas Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Provinsi Riau Fahmizal Usman, anggota DPRD Provinsi Riau Dapil Siak – Pelalawan Sugianto, perwakilan CD RAPP Muslim, serta Kapolsek Teluk Meranti Iptu Suprianto.

Selain penampilan jazz,  kegiatan yang berlangsung dua hari Rabu – Kamis (17-18/11) tersebut juga dimeriahkan dengan beragam acara. Antara lain, lomba Jung Katel, menanam pohon di Pantai Ogis, jamuan makan malam, dan coaching clinic surfing.

Ratusan peserta dari Pekanbaru juga diajak untuk melihat dari dekat ombak Bono menggunakan kapal.

Antusias peserta menunggu detik-detik kedatangan ombak Bono. (Muhammad Ridho / tripriau.com)

Kolaborasi Musik Jazz dan Kebudayaan Lokal

Malam itu, Kadisparekraf menyampaikan, pihaknya memberikan apresiasi atas pelaksanaan Bono Jazz Festival, yang tujuan utamanya mempromosikan destinasi Bono di Pelalawan.

Menurutnya, kolaborasi antara musik jazz dan kebudayaan lokal adalah suatu yang sangat luar biasa. ‘’Kemudian bertemu dengan kreatifitas masyarakat lokal, seperti kerajinan dan kuliner. Ini sangat luar biasa,’’ sebutnya.

Fahmi menambahkan, Provinsi Riau selalu berusaha agar Bono bisa ‘Menyapa Dunia’. ‘’Sebab, ada 5 ombak seperti Bono yang ada di dunia. Tapi, Bono yang terbaik,’’ ujarnya.

Saat ini, promosi pariwisata Riau menggunakan pola baru, yakni melibatkan komunitas. ‘’Sesuai dengan konsep Penta Helix dari Kementerian Pariwisata, yaitu pemerintah, akademisi, dunia usaha, media, dan komunitas. Ke depan, Bono Jazz Festival bisa menjadi magnet pengembangan pariwisata Riau,’’ tutur Fahmi.

Sementara itu, Sugianto mengingatkan, ketika Bono mampu ‘Menyapa Dunia’, masyarakat harus mendukung dan menyiapkan diri.Masyarakat meramaikan acara Bono Jazz Festival dengan berjualan aneka macam suvenir. (Muhammad Ridho / tripriau.com)

‘’Masyarakat Teluk Meranti harus mendukung. Kita harus persiapkan diri. Bikin suvenirnya. Kita mengajak Disparekraf untuk membina kreatifitas masyarakat membuat oleh-oleh yang bisa dibawa pulang wisatawan,’’ katanya.

Dia mengharapkan, di tahun-tahun mendatang harus lebih banyak masyarakat yang berperan serta. ‘’2017, diharapkan jalan (akses lintas Bono) sudah bagus,’’ tambah Sugianto.

Komitmen untuk mendukung kemajuan pariwisata Riau juga ditunjukkan oleh dunia usaha. Tahun ini, untuk pertama kali perusahaan yang beroperasi di Pelalawan, yakni RAPP membantu pelaksanaan Bono Jazz Festival.

‘’Dunia usaha mendukung pelaksanaan Bono Jazz Festival. Kita komitmen membantu di tahun-tahun selanjutnya,’’ kata perwakilan Community Development RAPP Muslim.

Founder Bono Jazz Festival Muhammad Ikhsan menyampaikan, perhelatan jazz telah mengalami perkembangan yang cukup pesat. Misalnya, di pulau Jawa ada beberapa helat jazz yang dilaksanakan dengan mengusung konsep outdoor, seperti Jazz Gunung di Bromo, Jazz Pantai di Banyuwangi, dan Ngayogjazz di Yogyakarta.

‘’Semua event jazz ini sangat erat dengan alam yang dimiliki oleh tiap-tiap daerah yang ada di Indonesia dan mempunyai nilai jual yang cukup tinggi untuk menjadi sebuah destinasi,’’ kata Ikhsan kepada tripriau.com.

Ikhsan menambahkan, konsep yang diusung dalam Bono Jazz Festival diharapkan dapat menambah antusias masyarakat lokal Riau, nasional dan mancanegara untuk menjadikan Bono sebagai destinasi yang menarik untuk dikunjungi.Aksi surfer asal Australia ikut meramaikan acara Bono Jazz Festival 2016. (riauphoto for tripriau.com)

Penulis: Rio Sunera



Tags:  -