Pria Ini Manfaatkan Ban Bekas Jadi Barang Bernilai Tinggi

By Trip Riau  |  29 November 2016 14:59:53 WIB  |  Business

Berbagai kerajinan dari Ban bekas karya Suherman. (Rota Bimantara / tripriau.com)

TRIPRIAU.com - Suherman (45), warga Jalan Arifin Ahmad, Pekanbaru, mengubah ban mobil bekas menjadi mebel mewah dengan harga tinggi.

Perajin barang bekas dari Banyuwangi ini menjelaskan, awal mula ia tertarik untuk mendaur barang-barang bekas yang ada di lingkungan sekitar tempat tinggalnya.

“Sampah-sampah ini biasanya saya kumpulkan dari lingkungan sekitar, dan tukang-tukang tambal ban, lalu saya olah,” kata lelaki yang berprofesi sebagai perajin siret dan kini tinggal di Jalan Arifin tempat dia menjalankan bisnisnya.

Keresahan yang ia rasakan lantaran banyaknya sampah barang bekas di lingkungannya. Kemudian membuat Suherman berpikir bagaimana cara mengubah benda-benda bekas tersebut dan memberikannya nilai lebih.

“Banyak benda-benda seperti ban bekas yang dibiarkan tidak terpakai oleh pemiliknya dan mengganggu pandangan mata. Akhirnya saya terpikir untuk memanfaatkannya. Berbekal dari kreatifitas sendiri, saya belajar sendiri dari tahun 1997, menekuni bisnis ini. Barang-barang bekas ini ternyata cocok juga dijadikan bahan pembuatan mebel,” katanya.

Pertama kali Suherman mulai menjalani bisnis ini dari tahun 1997. Benar-benar aktif pada tahun 2000-an. Bersama istrinya, ia melakoni bisnis itu mulai dari mencari dan memilah bahan, menentukan desain yang pas hingga terlibat dalam proses produksinya.

Suherman membeli dari perorangan maupun pelaku usaha yang sudah tidak memanfaatkan barangnya. Seperti ban yang biasa didapat dari pengusaha bengkel untuk kemudian diproses menjadi meja kursi.

Dia menjelaskan, proses pemilahan dan pembuatan hiasan hasil daur ulang sampah memakan waktu selama satu hingga tiga hari atau tergantung dari bahannya. Bahkan, ada juga yang sampai berbulan-bulan tergantung dari kerumitannya.

“Jika dilihat gampang-gampang susah membuatnya, butuh ketelitian dan akurasi yang tepat untuk menghasilkan karya seni ini,” kata Suherman.

Setelah produksi, pemasarannya saat ini masih dalam lingkup teman, kerabat, tetangga dan orang-orang yang lewat di Jalan Arifin Ahmad yang tertarik dan berhenti. Barang-barang olahan itu selanjutnya dibanderol mulai dari harga Rp 100.000 hingga jutaan rupiah.

Kerajinan yang dihasilkannya antara lain berbentuk kursi dari ban, meja dari ban, kursi urat sampai dipan kasur, air mancur, ayunan, pot bunga, dan masih banyak lainnya yang disesuaikan dengan pesanan.

Selama bisnis ini berjalan, produknya mulai dilirik banyak orang. Banyak pihak yang tertarik membesarkan produknya, termasuk Pemkab Siak, Rohul, dan Pekanbaru yang membeli kursi buatannya.

Ada juga salah satu pengembang perumahan yang membeli untuk hadiah pembeli perumahannya.

“Rupanya Pemkab Pekanbaru melihat produk saya. Sejalan dengan visinya yang ingin mengoptimalkan pemanfaatan sampah, dan ini menjadi motivasi bagi saya,’’ kata Suherman.

Ia optimistis, produk daur ulangnya ini mampu bersaing di pasaran, mengingat masyarakat mulai tumbuh kesadaran akan pemakaian barang yang ramah lingkungan.

“Saya yakin bisa laku di pasaran, karena kami jual mebel yang menarik namun dengan bahan yang berbeda. Apalagi sekarang Pekanbaru masyarakatnya memiliki kesadaran dalam menjaga lingkungan sendiri,” ujar Suherman.

Penulis: Rota Bimantara

Editor : Rio Sunera



Tags:  -