#AyoKeRiau

Zapin Api, Tarian Langka dari Rupat Utara Tampil di Pekanbaru

By Trip Riau  |  18 Desember 2016 23:09:39 WIB  |  News

Zapin api, tarian langka dari Rupat Utara, Bengkalis. (Dok.tripriau.com)

TRIPRIAU.com – Zapin Api, sebuah tarian langka yang biasanya hanya bisa ditonton di Rupat Utara, Bengkalis, kali ini tampil di Laman Bujang Mat Syam, Purna MTQ, Pekanbaru.

Tari Zapin Api ini digelar Dinas Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Provinsi Riau, dalam rangkaian acara Riau Performing Art 2016.

Zapin Api yang ditampilkan Rabu (14/12) malam lalu tersebut, berhasil memukau penonton yang memadati lokasi acara. Malam itu, Zapin Api yang dibawakan Sanggar Petak Semai dari Rupat Utara berhasil tampil dalam durasi yang cukup lama.  

Dalam zapin api, pertunjukan dilakukan dengan menyertakan api, kompang, dan gambus. Tanpa itu, maka atraksi zapin api tak bisa dilakukan. Secara mistik, ritualnya menggunakan kemenyan dan dupa. Siapa yang tidak bisa masuk ke alam lain atau kerasukan, tidak akan bisa bermain.

Jumlah pemain zapin api terdiri dari 3 orang pemukul marwas, 2 orang penjaga api, serta seorang yang beperan sebagai sutradara. Atraksi ini menyertakan mantra-mantra. Gerakan tari baru bisa muncul apabila para pemain mulai kerasukan.

Tarian zapin api merupakan tradisi asli Rupat Utara. Di Rupat Utara, zapin api mulai dimainkan sekitar tahun 1950an. Pada awalnya, dibawa oleh Husein, ayah dari Abdullah, pemimpin dalam tarian zapin api saat ini.

Saat ini, ada dua orang yang tersisa di Rupat Utara, yani Abdullah dan M Nor yang mampu berperan sebagai khalifah atau pawang dalam pertunjukan zapin api. Abdullah dan M Nor dulunya sama-sama berguru dengan Husein. Namun setelah itu, keduanya membuka sanggar masing-masing.

Abdullah sendiri sudah mulai berlatih zapin api sejak umur 12 tahun. Bila ada yang meminta, maka grup zapin api pimpinan Abdullah akan tampil. Biasanya dalam acara yang beragam, seperti pesta pernikahan dan hajatan warga lainnya.

Dalam iven Festival Pantai Rupat dan acara Mandi Safar, zapin api juga selalu ditampilkan.

Untuk meneruskan zapin api, saat ini Abdullah perlahan mulai mewariskan kepada dua orang anak lelakinya, bernama Umar dan Montel. Saat ini, dalam pagelaran zapin api keduanya bertugas sebagai penjaga api.

Salah satu prosesi tari Zapin Api. (Dok.tripriau.com)

Abdullah bercerita, zapin api sempat mati suri selama 40 tahun. Dalam rentang waktu itu, zapin api tak pernah lagi terlihat dimainkan di Rupat Utara. Baru pada 2013, zapin api kembali dimainkan.

Riau Performing Art 2016 sendiri merupakan sebuah perhelatan yang menampilkan berbagai budaya lokal dari seluruh daerah di Riau. Acara yang berlangsung di Anjung Seni Idrus Tintin ini dibuka oleh Gubernur Riau Arsyadjuliandi Rachman.

Kadisparekraf Provinsi Riau Fahmizal Usman mengatakan, berbagai kesenian dan budaya dipersembahkan bagi para pengunjung di acara tersebut, salah satunya tari Zapin Api dari Pulau Rupat Utara, Kabupaten Bengkalis dan Randai Kuantan dari Kuantan Singingi, Riau.

"Ini merupakan kegiatan kita dalam upaya serius menggarap wisata Riau, dengan kegiatan-kegiatan seperti ini kita berharap jumlah kunjungan wisman ke Riau meningkat," ujar Fahmi.

Komitmen Pemprov Riau dalam mendorong sektor pariwasata Riau juga diungkapkan Gubernur Andi Rachman. Menurutnya tidak ada kata terlambat untuk sukses.

Oleh sebab itu, di bawah kepemimpinan Andi terus menggali segala potensi budaya dan pesona alam yang disuguhkan sebagai cadangan kekayaan alam yang harus dilestarikan selain kekayaan minyak bumi dan gas (migas).

"Kami serius. Kami sudah berkali-kali mendengarkan presentasi Pak Menpar Arief Yahya, soal core economy bangsa Indonesia ke depan. Minyak dan gas bumi turun, batubara juga ikut turun. Kelapa sawit pun, tiga andalan utama Riau trend-nya terus menurun. Maka Pariwisata menjadi point penting untuk menjemput masa depan," kata Gubernur Riau H Arsyadjuliandi Rachman.

Pria yang karib disapa Andi tersebut menjelaskan, untuk memaksimalkannya, potensi-potensi tersebut mulai dikemas dan dikelola secara apik dan sistematis agar menarik wisatawan baik itu lokal maupun internasional.

Penulis: Rio Sunera

 



Tags:  -