Grand Elite Hotel Garap Segmen Tionghoa untuk Pasarkan Paket Pernikahan

By Trip Riau  |  15 Januari 2017 11:49:07 WIB  |  Business

Suasana momen resepsi pernikahan di Grand Elite Hotel Pekanbaru. (Dok.tripriau.com)

TRIPRIAU.com – Di tengah menjamurnya hotel di Pekanbaru, persaingan di bisnis ini menjadi begitu kompetitif. Pengelola hotel harus benar-benar jeli mencari sumber pemasukan untuk memperoleh laba.

Beragam paket promo dan program kerap diluncurkan untuk menarik hati pelanggan. Hal ini biasanya dilakukan untuk mengoptimalkan pemasukan tambahan (Additional generation), disamping pemasukan utama (main revenue) yang berasal dari okupansi kamar.

Hal menarik dilakukan Grand Elite Hotel dalam strategi bisnisnya. Hotel bintang empat ini memiliki jualan berupa paket pernikahan (wedding package) yang dikhususkan untuk menyasar segmen pasar Tionghoa. Paket pernikahan ini bernama Ciato Wedding.

Ciato Wedding sendiri sudah berlangsung lama, yakni sejak hotel yang berada di Komplek Riau Business Center ini mulai beroperasi pada tahun 2005 lalu.

Segmen Tinghoa sendiri cukup menarik dan punya potensi besar. Sebagai konsumen, mereka punya karakteristik yang unik.  

Manager Marketing Grand Elite Hotel Henni Rasmonowati menjelaskan, Ciato Wedding menjadi salah satu paket jualan yang terbilang laris. Paket ini cukup menarik bagi segmen Tinghoa.    

Bulan pertama di 2017 ini saja, tambah Henni, sudah ada delapan paket Ciato Wedding yang laku.

‘’Kita menganalisa, permintaan wedding di hotel cukup banyak. Sebab, kalau mengadakan wedding di hotel itu praktis dan efisien,’’ jelasnya.

Grand Elite Hotel tentu tidak sendirian bermain di paket pernikahan untuk pasar Tionghoa ini. Kompetitornya cukup banyak. Karena itu, berbagai keunggulan pun coba ditawarkan.

‘’Keunggulan kita adalah makanan yang enak, dan itu sering dipuji oleh pelanggan. Selain itu, pelayanan yang ramah serta parkiran kita yang luas ternyata cukup menguntungkan. Tamu mudah parkir di tempat kita,’’ ujarnya.

Dari segi makanan, Grand Elite Hotel juga selalu berusaha menyajikan menu-menu yang enak di lidah dan sesuai selera.  

‘’Kalau dari segi rasa, masakan kita udah masuk dengan lidah mereka (Tionghoa). Kendala kita ada di ketersedian bahan. Ada beberapa bahan yang susah dicari di Pekanbaru. Chinese food kan identik dengan seafood yang fresh, juga kalengan. Pekanbaru kan jauh dari laut. Jadi agak susah cari seafood segar. Strateginya, kita punya suplier di Medan,’’ kata Executive Chef Dalyono.   

Chef Dalyono menjelaskan, cukup banyak etnis Tionghoa yang menjalani pola makan vegetarian. Sehingga, pihaknya juga harus sensitif soal makanan ini.

‘’Misalnya saja, vegetarian tidak makan bawang, telur, udang, dan sebagainya, maka kita bisa menghadirkan rasa udang dan seafood dengan bahan lain. Kita juga harus jaga, jangan sampai protein hewani masuk ke tubuh mereka. Kita tetap berikan yang terbaik,’’ jelasnya kepada tripriau.com.

Penulis: Rio Sunera 



Tags:  -