Mengelola Kearifan Lokal Jadi Produk Wisata yang Menguntungkan

By Trip Riau  |  26 Januari 2017 14:15:55 WIB  |  News

Danau PLTA Koto Panjang. (Dok. tripriau.com)

TRIPRIAU.com – Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis) Bulu Kasok, Desa Pulau Gadang, Kecamatan XIII Kota Kampar, Kampar tengah bersemangat mengembangkan sektor pariwisata di daerah. Mereka menggarap potensi wisata berbasis kearifan lokal dengan harapan mendatangkan manfaat ekonomi bagi masyarakat tempatan.

Pokdarwis Bulu Kasok memang belum lama terbentuk. Tahun ini, periode kedua mereka berjuang mengembangkan potensi lokal.

‘’Pokdarwis ini dirintis tahun 2015 oleh Badawi (masyarakat Pulau Gadang). Sempat terhenti, dan kita mulai lagi tahun 2016,’’ ujar Candra Budi, salah seorang penasehat di Pokdarwis Bulu Kasok.

Keinginan Pokdarwis Bulu Kasok untuk maju sangat kuat. Dalam urusan dana misalnya, mereka rela merogoh kocek masing-masing. Dengan cara swadaya  itulah mereka selama ini menjalankan roda organisasi dan kegiatan-kegiatan yang dikelola oleh kelompok.  

Saat ini, di kawasan bernama  Bulu Kasok Candra Budi dan kawan-kawan tengah mengembangkan sebuah kawasan wisata. Area ini berdekatan dengan kawasan Pembangkit Listrik Tenaga Air (PLTA) Koto Panjang, Kampar.

Nantinya di sana, wisatawan bisa menikmati atraksi memancing, kemping, area pemandian, pusat penyalaian ikan patin, serta pusat pembesaran ikan, terutama jenis patin dan nila.

Kawasan PLTA memang punya daya dukung yang kuat sebagai destinasi wisata unggulan di Riau. Kuncinya, tinggal keseriusan untuk benar-benar mengelola potensi besar itu. ‘’Yang kita kelola itu hutan asli. Belum pernah terjamah,’’ ucap Budi. 

Kawasan PLTA punya banyak daya tarik. Lanskapnya menawan dengan hamparan danau dan perbukitan. Masyarakat lokal di sana pun punya keunikan lain berupa kearifan lokal, seperti tradisi agama, kesenian, hingga adat-istiadat yang masih dipegang teguh.

 

Danau PLTA sudah lama dikenal sebagai spot potensial bagi para penghobi mancing. Beragam jenis ikan bisa dijumpai di danau-danau tersebut.

Kawasan yang akan dikelola Pokdarwis Bulu Kasok memiliki luas 12 hektar. Kawasan ini merupakan tanah ulayat yang sudah dihibahkan untuk dikelola sebagai objek wisata.

Pengelolaan yang baik, berbasis kearifan lokal menjadi pegangan kelompok itu dalam mengelola destinasi. ‘’Kalau ada kayu dan pohon besar misalnya, ya, kita elakkan. Jangan sampai ditebang,’’ tuturnya.

Candra Budi bercerita, bila kawasan ini dikelola dan jalan mulai dibuka, maka akan ada banyak masyarakat yang diuntungkan. Secara langsung, akan ada lebih kurang 100 petani karet dan 60 petani kerambah yang terbuka akses jalannya. ‘’Mereka akan mudah pergi ke kebun, karena akses jalan sudah kita buka,’’ ujarnya kepada tripriau.com.

Desa Pulau Gadang sendiri merupakan satu dari 5 desa yang ditenggelamkan saat pembangunan waduk PLTA Koto Panjang. Mereka pindah ke desa yang sekarang dan memulai kehidupan sebagai petani karet.

Saat ini, lebih dari 50 persen warganya menjalani rutinitas harian dengan membudidayakan patin.

Dari Candi Muara Takus, sebagai salah satu destinasi wisata sejarah di Kampar, Pulau Gadang berjarak sekitar 30-40 menit perjalanan.

Penulis: Rio Sunera  

 



Tags:  -