'Bailiu Antau Sungai Kampau', Membangkitkan Tradisi Para Tetua

By Trip Riau  |  04 Februari 2017 21:05:40 WIB  |  News

Perahu hias menghilir sungai dalam tradisi Bailiu Antau Sungai Kampau. (Rio Sunera / tripriau.com)

TRIPRIAU.com – Bagi para tetua dulu, sungai adalah nadi kehidupan. Di pinggiran sungai, mereka membangun peradaban, hubungan sosial, dan kekuatan ekonomi. Kini, semangat itu diulang lagi dalam tradisi Bailiu Antau Sungai Kampau.

Beragam perahu hias dengan rupa-rupa bentuk berjejer di tepian sungai Kampar, Desa Muara Uway, Bangkinang, Kampar, Sabtu (4/2) pagi. Sebagian perahu kelihatan hilir mudik di atas permukaan sungai Kampar yang sedang surut.

Perahu-perahu kayu itu dihias dengan berbagai bentuk dan motif tradisional. Wajah perahu berubah cantik dengan sentuhan beragam ornamen. Untuk menarik perhatian, beberapa perahu ditambahkan pengeras suara dan alat musik tradisional Kampar, Oguong.

Perahu hias ini menjadi bagian dari tradisi Bailiu Antau Sungai Kampau yang juga digelar untuk memeriahkan hari jadi Kabupaten Kampar ke-67.

Bailiu bermakna balapan dengan menggunakan sampan di sepanjang sungai Kampar. Tradisi ini sudah nyaris hilang karena terkikis zaman yang makin modern. Tradisi ini coba dibangkitkan sebagai pengingat tradisi nenek moyang zaman dahulu.

Ada sebanyak 49 buah sampan yang berpartisipasi, dengan jumlah peserta 420 orang. Sampan-sampan ini berasal dari Forkopimda, Satuan Kerja Perangkat Daerah, BUMD, kecamatan, kelurahan, serta ninik mamak di Kabupaten Kampar.  

Sampan-sampan hias ini menempuh perjalanan melintasi sungai sejauh 40 kilometer. Mulai dari Desa Muara Uway hingga jembatan kembar Danau Bingkuang, Kecamatan Tambang.

Dengan jarak puluhan kilometer itu, setidaknya butuh waktu tempuh 5 jam mencapai garis finis.

Sebelum sampai di garis finis, peserta singgah sebentar di Desa Numbay, Kampar. Di desa ini peserta memberikan cinderamata kepada masyarakat yang tinggal di pinggiran sungai.

Puluhan perahu dilepas sekitar pukul 09.00 oleh Pj Bupati Kampar. Diiringi alat musik tradisional Kampar dan lambaian penonton di bibir sungai.

Penjabat Bupati Kampar Syahrial Abdi menjelaskan, tradisi Bailiu Sungai Kampau dilakukan untuk melihat perspektif lain dari cara membangun Kampar dan bagaimana Kampar diukir.

‘’Mengapa payah-payah lewat sungai? Kalau lewat darat hanya 20 kilometer. Yang kita ingin ingatkan adalah bagaimana orang tua kita dulu merangkai komunitas, membangun hubungan ekonomi dan emosional,’’ ujarnya.

Sebagai bukti hubungan ekonomi, ada tiga pasar yang berada di sepanjang sungai dalam perjalanan Bailiu Antau Sungai Kampau ini.

‘’Begitulah mereka yang tumbuh dengan semangat kebersamaan. Menjadi ulama, tokoh dagang, dan menyemaikan kebaikan. Sekarang kita dimudahkan dengan jalan yang singkat, beraspal, dan bisa berkendara,’’ katanya.

Syahrial menambahkan, ada tiga nilai yang bisa diambil dari tradisi ini, yakni semangatnya. ‘’Serta, nilai kedua, bagaimana kita memerhatikan sungai Kampar. Lihatlah apa yang harus dibangun, banyak lahan yang belum tergarap, lahan kosong, serta banyak pembangunan yang belum berjalan,’’ ajak Syahrial.

‘’Terakhir, ada hal-hal yang belum selesai dan tidak sesuai dengan ketentuan. Mari kita potret dan kita selesaikan,’’ ucapnya.

Penulis: Rio Sunera

 

 

 

 



Tags:  -