Mengenal Jejak-jejak Sejarah Pekanbaru di Kawasan Lama Senapelan

By Trip Riau  |  12 Maret 2017 16:34:27 WIB  |  Wisata Riau

Rumah Pingit salah satu bangunan tua sejarah kebudayaan melayu yang berada di tepian sungai Siak perkampungan Senapelan (Ismarwan)

TRIPRIAU.com - Menapaktilasi keberadaan kota tua jadi salah satu cara mengulang ingatan. Ragam jejak arsitektur, budaya, serta khasanah kuliner yang masih tersisa mampu menjadi penghubung dengan romantisme masa lalu. Sekaligus mengenali sejarah sebuah kota.

Kawasan kota lama selalu saja menyuguhkan daya tarik dan identitas sebuah kota. Sebab, di sanalah entitas kota bercerita. Tidak hanya tentang hari ini, tapi juga tentang masa lalu.

Kegiatan "Pekanbaru Heritage Walk", Ahad (12/3), menjadi cara puluhan orang yang tertarik dengan wisata kota tua, untuk mengenal Senapelan sebagai cikal bakal lahirnya kota Pekanbaru.

Kota Tua Senapelan yang selama ini terkesan dilupakan menjadi momen terbaik untuk mengenal sejarah Pekanbaru lebih dekat. Terutama, sejak Pekanbaru menjelma menjadi kota modern.

Bagi Pekanbaru yang masih minim objek wisata, menyusuri kawasan kota tua bisa dikemas menjadi sebuah produk wisata bernilai jual.

Dari Terminal Lama hingga Toko Kue Senapelan

Perjalanan dimulai dari terminal lama Pekanbaru yang berada di kawasan Rumah Singgah Tuan Kadi, Jalan Perdagangan, Senapelan.

Peserta dibagi dalam enam kelompok. Sebagian besar membawa serta anggota keluarga.

Terminal yang mulai didirikan 1955 ini hanya menyisakan sebuah halte berwarna biru. Lokasinya persis berada di bawah jembatan Siak 3, menghadap ke Sungai Siak.

"Ini salah satu halte untuk menunggu mobil. Dulunya ada tiga titik pemberangkatan, yakni Ate, Tangah, dan Bawah," kata pemandu kegiatan Pekanbaru Heritage Walk Osvian Putra.

Ate merujuk pada pasar atas atau kawasan sekitar pasar pusat. Tangah atau tengah merupakan kawasan pertokoan Jalan Karet dan Jalan Juanda. Sementara bawah, merupakan kawasan pasar bawah sekarang.

"Sebab, daerah-daerah ini yang dulunya berkembang," jelas Osvian.

Osvian menjelaskan, terminal dibangun di lokasi ini karena berada tak jauh dari stasiun pengisian BBM tertua di Pekanbaru yang dibangun tahun 1955.

"Pada masa itu harga BBM 65 rupiah. Ini yang jadi sejarah. Banyak meninggalkan cerita bagi orang-orang yang punya kenangan di sini. Misalnya, kalau janjian di ponton jam berapa," ceritanya.

Sekitar tahun 1955 penduduk Pekanbaru masih sedikit. Jumlahnya hanya berkisar 85 ribu jiwa.

"Orang-orang saling kenal. Titik ramainya waktu itu pasar bawah. Yang terkenal waktu itu Toko Roti Senapelan yang sudah ada sejak 60-an," katanya.

Selanjutnya, peserta menyambangi Rumah Singgah Sultan Siak yang berjarak hanya puluhan meter dari titik terminal lama.

 

Rumah ini didirikan tahun 1895. Saat Sultan Syarif Kasim II ke Pekanbaru, beliau selalu singgah ke rumah ini.

Selain delapan buah mainan gasing yang terpajang di salah satu sisi dinding, pengunjung juga bisa melihat deretan foto lama jembatan ponton.

Setidaknya, ada 10 buah foto berukuran besar hasil dokumentasi PT CPI yang diambil pada 1960.

Sementara di salah satu dinding di ruang tengah, terpajang sebuah foto Sultan Syarif Kasim Abdul Jalil Syaifuddin. Selebihnya rumah panggung ini tampak kosong tanpa ornamen apapun.

Selanjutnya, dengan berjalan kaki, peserta melanjutkan perjalanan ke Rumah Tenun yang berada di Kampung Bandar.

Rumah tenun ini merupakan peninggalan dari keluarga pejuang perintis kemerdekaan Haji Abdul Hamid Yahya.

Di dalam rumah berasitektur unik tersebut terdapat 3 alat tenun bukan mesin (ATBM). Di rumah ini, pengunjung bisa membeli kain tenun dan syal aneka motif.

Selanjutnya, peserta dan tour guide berjalan kaki membelah perkampungan padat di tepian sungai Siak.

Di perjalanan, pemandu menunjukkan sebuah surau tua terbuat dari kayu dengan model panggung. Tak jauh dari situ juga terdapat rumah pingit.

"Dulu lumrah orang menginap di mesjid. Pedagang-pedagang yang datang dari jauh biasanya juga menginap di mesjid," masih kata Osvian.

Perjalanan dilanjutkan menuju area titik nol Pekanbaru di kawasan pelabuhan lama.

Peserta melintasi Jalan Kota Baru yang banyak terdapat para penjual ban bekas. Di era 1960 awal, Kota Baru merupakan jalan top di Pekanbaru.

"Ibaratnya kalau Bandung ada Braga, nah, di Pekanbaru tempat ngumpul, mejeng, dan ngopinya di sini," cerita Osvian.

Tak jauh dari sini juga, Kimteng yang legendaris itu membuka kedai kopinya untuk pertama kali. Sebelum pindah ke tempat sekarang di Jalan Senapelan.

Di tugu nol kilometer, Osvian menjelaskan, tugu titik nol-nya Pekanbaru tersebut dibuat oleh orang Belanda.

Di patok semen itu, tertera tulisan Pad 313 kilo, Bkn 65 kilo, dan Pb 0. Tulisan itu masing-masing merujuk pada jarak Pekanbaru-Padang dan Pekanbaru-Bangkinang.

Tak jauh dari tugu titik nol merupakan pelabuhan tempat kapal-kapal bersandar. Ketika itu, menjadi semacam Pelni-nya Belanda yang membawa berbagai komoditas keluar. Bahkan, kapal di sini ada yang berlayar sampai ke Afrika Selatan.

"Sebab, dulu pada masa 1910-1940, Pekanbaru merupakan kota yang sibuk," jelas Osvian.

Uniknya lagi, didekat tugu titik nol -- hanya berbatas pagar -- terdapat sebuah bangunan unik yang bagian atasnya menyerupai topi hakim ala film-film China. Bangunan berciri tersebut hanya ada dua di Indonesia.

"Ini sejarahnya, Tionghoa yang masuk ke Pekanbaru sama dengan Tinghoa yang ada di Lasem (Kampung Lasem, Rembang, Jawa Tengah). Dari keturunan yang sama," sebut Osvian.

Masih di kawasan pelabuhan, Osvian juga menunjukkan sebuah rumah tua. Di depannya ada rongsokan mobil sejenis bus.

"Ini dulu kantor bea cukai-nya Belanda atau dikenal dengan syahbandar," katanya.

Puas berkeliling di kawasan Pelindo lama, peserta menuju Istana Hinggap yang berada tak jauh dari Mesjid Raya Pekanbaru.

Bangunan bergaya art deco ini merupakan tempat menginap Sultan Siak kala berkunjung ke Senapelan.

Perjalanan di akhiri dengan berkunjung dan menikmati panganan di toko roti tertua di Pekanbaru, yakni Toko Roti Senapelan.

Mengambil Peran

Pekanbaru Heritage Walk (PHW) merupakan sebuah open source program yang diinisiasi beberapa pegiat wisata di Pekanbaru.

"Dan kami yakin, kami bukanlah yang pertama melakukannya. Ada banyak komunitas dan penggiat wisata lainnya yang telah lebih dulu melakukannya. Ini adalah salah satu cara kami untuk ikut ambil peran memajukan wisata, terutama wisata kota," kata salah satu inisiator "Pekanbaru Heritage Walk" Refki Riyantori.

PHW juga memiliki misi besar mengenalkan kota Pekanbaru sebagai salah satu kota bersejarah di Provinsi Riau.

"Kita tidak mau saling menyalahkan. Kita coba ambil peran. Ke depan, kita akan bina anak-anak lokal di Senapelan untuk jadi guide-nya," ujarnya.

Sebab, menurutnya, masih banyak orang yang tidak tahu akan sejarah kotanya.

"Oh, ternyata ada ini, ya, di Pekanbaru," kata General Manager Garuda Indonesia Pekanbaru ini kepada tripriau.com.

Selanjutnya, pemerintah bisa didorong untuk mengembangkan kawasan kota tua ini. Misalnya, seperti kampung warna-warni di Malang yang saat ini viral di media sosial.

"Pada akhirnya, masyarakatlah yang akan mendorong pemerintah sebagai stake holder. Itu yang akan kita dorong. Basisnya keterlibatan," ujar Refki.

Penulis: Rio Sunera



Tags:  -