Sepenggal Cerita dari Kawasan Titik Nol-nya Pekanbaru

By Trip Riau  |  20 Maret 2017 14:16:45 WIB  |  City Guide

Foto : anjunofarofhasudungan.blogspot.co.id

TRIPRIAU.com – Di mana titik nol-nya Pekanbaru? Titik nol Pekanbaru berada di kawasan pelabuhan Pelindo lama. Sebuah tugu beton dengan tinggi lebih kurang setengah meter jadi penanda nol kilometernya Pekanbaru.

Di patok nol kilometer itu, tertera tulisan; Pad 313 kilo, Bkn 65 kilo, dan Pb 0. Tulisan tersebut masing-masing merujuk pada jarak Pekanbaru-Padang dan Pekanbaru-Bangkinang.

Tugu nol kilometer ini dibuat oleh Belanda pada tahun 1920. Tugu yang berada tak jauh dari Pasar Wisata Pasar Bawah ini jadi penanda pembuatan jalan penghubung antara Pekanbaru-Bangkinang-Payakumbuh.

Saat program ‘Pekanbaru Heritage Walk’ pekan lalu, peserta mendapatkan banyak cerita sejarah yang mewarnai kawasan yang berada di Jalan Saleh Abbas ini. Osvian Putra, sang pemandu, berhasil membuka mata kami betapa panjang dan menariknya jejak sejarah Pekanbaru.

Bila titik nol-nya Pekanbaru berada di kawasan pelabuhan lama ini, maka patok 1 kilometernya berada di depan RS Santa Maria, Jalan Ahmad Yani. Namun, belum diketahui apakah masih ada penandanya di sana.

Pada masa itu, jalan yang menghubungkan tiga kota itu menjadi urat nadi perdagangan antara pantai Barat dan pantai Timur Sumetera. Sepekan sekali, kapal-kapal dagang dari Koninklijke Paketvaart Maatschappi (KPM) berlayar dari Pekanbaru menuju Temasik atau Singapura.

Bahkan, ada yang berlayar hingga ke Afrika Selatan. Kapal itu merupakan Pelni-nya Belanda yang membawa berbagai komoditas keluar.

Hanya berbatas pagar dari tugu titik nol, kita bisa melihat sebuah bangunan tua. Bangunan ini sangat unik, sebab bagian atasnya menyerupai topi hakim ala film-film China. Ternyata, bangunan berciri tersebut hanya ada dua di Indonesia.

Satunya lagi, bangunan serupa itu bisa ditemui di Kampung Lasem. Lasem merupakan sebuah kampung Tionghoa yang berada di Rembang, Jawa Tengah.

‘’Ini sejarahnya, Tionghoa yang masuk ke Pekanbaru sama dengan Tionghoa yang ada di Lasem. Dari keturunan yang sama,’’ kata Osvian Putra, salah satu pemandu wisata di Pekanbaru.

Hanya puluhan meter dari tugu titik nol, Osvian menunjuk sebuah rumah tua bergaya 1920-an. Rumah ini sudah terlihat rusak. Di depannya terlihat sebuah bangkai mobil. Bentuknya seperti bus.

Dari depan, rumah ini tidak begitu kelihatan, sebab tertutup pagar beton. ‘’Pagar ini dibangun kemudian, dulu belum ada,’’ tukas Osvian.

Cerita Osvian, bangunan tua ini merupakan kantor Bea Cukai-nya Belanda atau Rumah Syahbandar. Sebelum dipagar, dari rumah ini bisa memandang langsung ke arah pelabuhan di Sungai Siak. Jaraknya tidak sampai 100 meter dari tepian sungai.

Pada masa 1920, Belanda menempatkan pegawai Syahbandar mereka di Pekanbaru untuk mendata kapal-kapal dagang yang masuk dan keluar Pekanbaru. Sebab, perdagangan Pekanbaru saa itu sangat pesat.

‘’Catatan syahbandar menjadi saksi bisu pergerakan kapal-kapal yang membawa hasil bumi dan masyarakat Riau menuju Singapura,’’ cerita Osvian.

Masih di kawasan yang sama, keberadaan gudang tua juga menarik perhatian peserta. Bangunan inilah yang biasanya disebut dengan Gudang Pelindo. Gudang ini jadi saksi bisu kejayaan perdagangan antara Sumatera Timur ke Singapura.

Pada zaman dulu, gudang-gudang ini penuh dengan barang-barang yang akan dibawa menuju Singapura. Barang-barang ini biasanya berasal dari Tapung, Payakumbuh, dan beberapa wilayah di Sumatera Tengah lainnya.

Penulis: Rio Sunera  



Tags:  -