Tren Penggunaan Tanjak Jadi Peluang Bisnis di Siak

By Trip Riau  |  24 Maret 2017 22:57:38 WIB  |  Business

Salah satu produk Tanjak melayu dari brand Thanjack. (Foto: FB Thanjack)

TRIPRIAU.com – Tren penggunaan tanjak beberapa waktu belakangan menjadi peluang bisnis baru bagi industri rumahan. Ikat kepala khas Melayu ini pun mengalami beragam inovasi, menyesuaikan dengan selera dan kebutuhan pasar. 

Tanjak kembali populer sejak awal Februari lalu. Ketika itu, Bupati Siak memerlakukan pemakaian tanjak bagi Aparatur Sipil Negara (ASN), khusus hari Kamis dan Jumat setiap pekan. Tujuannya, menghidupkan kembali identitas Melayu di tengah masyarakat.

Sejak itu, penggunaan tanjak pun mulai menjadi tren diberbagai lapisan masyarakat. Peluang bisnis inilah yang ditangkap oleh Muhammad Jailani (33), pemuda dari Siak.

Dia memulai bisnis penjualan tanjak dengan brand “Thankjack” di Siak.Tak lama setelah edaran resmi pemerintah kabupaten itu dikeluarkan.

Melalui bisnisnya ini, Jailani tak sekedar meraup untung. Tapi bisa ikut berpartisipasi ‘memasyarakatkan’ lagi pemakaian tanjak.

Apalagi, dia juga menilai tanjak belum diproduksi secara massal untuk memenuhi kebutuhan pasar.

“Yang ada hanya skala kecil. Industri rumahan yang hanya bisa memproduksi beberapa tanjak dalam sehari,” jelasnya saat dihubungi tripriau.com, Jumat (24/3).

Di tangan Jailani, tanjak berinovasi. Sekarang, ikat kepala yang biasa dipakai para lelaki ini tidak hanya dibuat dari kain songket saja, tapi juga dari kain batik, denim, polos, bahkan ada juga tanjak pramuka.

Jenis tanjak yang terakhir ini merupakan inovasi yang baru diproduksi oleh brand milik Jailani saja.

“Setahu saya tanjak pramuka baru kami yang produksi. Kami ingin pramuka dari tanah Melayu punya ciri khas tersendiri,” akunya.

Dari semua motif tersebut, tanjak dari kain songket yang paling mahal, yakni seharga Rp 60 ribu. Sementara untuk bahan denim Rp 55 ribu dan Rp 50 ribu untuk bahan biasa.

Dari Februari hingga Maret ini saja, Thanjack sudah memproduksi sekitar 500 buah tanjak. Sedangkan untuk produksi mingguannya sekitar 50-120 tanjak.

Jailani mengungkapkan, desain dan pembuatan pola masih dia lakukan sendiri. Sedangkan untuk menjahit, barulah ia dibantu empat orang pengrajin.

Tanjak milik Jailani ini dipasarkan tidak hanya secara online di instagram @tanjaksiak. Tetapi juga memanfaatkan jasa reseller yang sudah mencapai belasan.

Thanjack saat ini juga bisa ditemukan di tempat-tempat penjualan oleh-oleh hingga toko pakaian di Kabupaten Siak. Bahkan Jailani mengaku punya reseller di Kepulauan Meranti, bahkan Yogyakarta.

“Untuk online kita menjangkau daerah yang tidak ada reseller seperti di Kepulauan Riau, Kalimantan Barat, dan kabupaten lain di Riau. Bahkan kami juga punya konsumen dari Malaysia,” terang pria kelahiran 1984 ini.

Tanjak yang diproduksi Jailani ini memang ditargetkan untuk semua kalangan dan usia. Menurutnya tanjak harus “dibumikan” seluas-luasnya di tanah Melayu, Apalagi Riau merupakan 'The Homeland of Melayu'. “Kita harus tunjukkan ciri khas kita,” tegasnya.

Selain promosi lewat media sosial, Thankjack juga hadir di acara komunitas atau organisasi. Memberikan support kepada aktivis peduli lingkungan, peduli budaya, seni, dan lainnya.

“Kami pernah mensupport pecinta alam dari mahasiswa Siak di Jogja, mereka mengampanyekan objek wisata Siak di puncak gunung Andong, Magelang. Kami juga menghadirkan stand di acara pelantikan Ikatan Pelajar Riau Yogyakarta, dan di acara Yong Dolah April mendatang,” jelas Jailani.

Thanjack juga menyediakan seragam tanjak untuk cafe dan restoran yang ingin penampilan karyawannya terlihat unik dan menarik.

Penulis: Tika Azari

Editor: Rio Sunera

 



Tags:  -