‘Manangkual’, Tradisi Musiman di Pinggiran Sungai Kampar

By Trip Riau  |  05 April 2017 15:16:36 WIB  |  Feature

Manangkual Ikan di Sungai Kampar. (Tika Azaria / tripriau.com)

TRIPRIAU.com - Ketika debit air sungai Kampar bertambah, sudah pasti membuat masyarakat di pinggiran sungai khawatir akan bencana banjir. Namun, tak hanya menimbulkan kekhawatiran, disamping itu juga ada berkahnya.

Tahukah kamu kalau ada tradisi seru menjelang air surut bagi masyarakat yang tinggal di pinggir sungai Kampar? Yap, 'manangkual' alias menangkap anak ikan yang mudik. Istilah 'manangkual' ini muncul dari alat penangkap yang digunakan, masyarakat setempat menyebutnya 'tangkual'.

Alatnya berupa jaring persegi yang ke-empat sudutnya masing-masing diikatkan pada ujung  bambu yang tidak lebih besar dari tangkai sapu. Bambu-bambu tersebut disatukan dengan cara diikat.

Pada ikatan tersebut dihubungkan dengan bambu yang ukurannya lebih besar dengan panjang 2-3 meter, atau disebut sentakan. Sentakan inilah yang digunakan untuk mengangkat atau menurunkan jaring ke sungai.

Cara pakai alat ini tidak terlalu ribet, tinggal celupkan alat penangkap tersebut ke sungai, injak sentakannya, tunggu beberapa saat, lalu angkat sentakan. Jika beruntung, jaringan akan penuh oleh anak ikan. Tergantung ikan yang berenang ke mudik pada waktu itu.

Pada Sabtu, (1/4) Saya berkesempatan menyaksikan dan ikut ‘manangkual’ di pinggir sungai Kampar, di desa Penyasawan tepatnya. Meski sudah sudah sangat sore, tetap masih ada yang mencoba peruntungan di pinggir sungai dengan ‘tangkual’ dan ember tempat ikannya.

"Kegiatan ini musiman, kalau air naik (pasang) dan mulai surut, anak ikan banyak yang mudik," terang Desrina, warga setempat. Saat itu Desrina hanya menyaksikan kami ‘manangkual’, tidak ikut karena sudah mendapatkan cukup banyak ikan sebelumnya.

Sangat disayangkan, sore itu, anak ikan tidak banyak yang lewat. Hingga azan maghrib berkumandang, ikan yang berhasil terjaring hanya beberapa ekor saja.

"Gak nentu anak ikannya, tadi banyak yang lewat," ujar Ides.

Meski sekarang sedang musim 'mudik'-nya anak ikan, bukan berarti setiap saat akan mendapat hasil tangkapan yang banyak. Ada waktu-waktu tertentu dan tidak terjadwal. Sehingga masyarakat yang ingin menangkap ikan harus rajin mengecek ke sungai. Melihat apakah ada anak ikan yang lewat. "Nanti keliatan kok (ikannya) di air pas lagi rame mudik," terang Ides.

Konon katanya, istilah ikan mudik ini karena ketika air pasang ikan-ikan banyak terbawa arus ke hilir. Sehingga ketika air mulai surut, anak-anak ikan berenang kembali ke mudik.

Karena sore itu Saya kurang beruntung mendapatkan tangkapan anak ikan yang banyak, maka saya kembali Minggu sorenya. Kali ini di desa Rumbio. Di daerah ini juga banyak ibu-ibu yang mencari ikan dengan alat ‘tangkual’ ini. Sejak pukul empat sore, ibu-ibu sudah membawa perlengkapan seperti ember dan tentu saja 'tangkual' ke pinggir sungai.

Kegiatan menangkap ikan dengan alat ‘tangkual’ ini memang lebih identik dengan kaum wanita di sana. “Laki-laki jarang menggunakan ini, biasanya mereka pakai jala atau pancingan,” ujar Rahma (20), pemudi setempat yang saat itu sedang menyaksikan proses ‘manangkual’.

Tak tanggung-tanggung, jika rejeki baik, ibu-ibu ini bisa menangkap berember-ember anak ikan. Ada yang menjualnya langsung di tempat, ada juga yang untuk konsumsi sendiri dan dibagi-bagikan kepada tetangga.

“Sebenarnya sensasi ‘manangkual’ ini beda, kebanyakan cuma untuk melepas hobi saja,” terang Rahma, yang juga merupakan mahasiswa Universitas Riau ini.

Rahma bercerita kalau dulu ketika masih sekolah, Ia juga sering ikut rombongan ibu-ibu menangkap anak ikan dengan cara tradisional seperti ini. “Seru banget, apalagi lihat anak ikannya banyak terus lompat-lompat diatas jaringnya,” kenangnya.

Namun, sekarang Ia mengaku sudah lama tidak ikut kegiatan musiman ini karena sibuk kuliah dan jarang pulang ke rumah di kampung. Bahkan alat ‘tangkual’ miliknya sudah rusak akibat tidak terurus.

Meski tidak lagi ikut menangkap ikan, tapi Rahma mengaku masih sering menyaksikan ibu-ibu ‘manangkual’ karena rumahnya berada tak jauuh dari pinggir sungai.

Sungguh asyik menyaksikan kegiatan menangkap ikan secara tradisional ini langsung di pinggir sungai Kampar. Minggu sore itu, ekspresi harapan dan kekecewaan silih berganti terlihat di wajah ibu-ibu yang berjuang dengan ‘tangkual’nya ketika melihat tidak ada seekor ikanpun yang terangkat.

Meski hanya sebagai hobi, tetap saja mereka berharap bisa mendapatkan ikan yang banyak untuk santapan makan malamnya. Namun, lagi-lagi, sore yang kedua kalinya, Saya kembali gagal menyaksikan berember-ember anak ikan yang tertangkap.

Penulis: Tika Azaria

Editor: Rio Sunera



Tags:  -