Mengenal Teknik 'Cupping' di Kelas Edukasi Kopi

By Trip Riau  |  08 April 2017 09:20:09 WIB  |  News

Ikhsan Nur Hadi meracik kopi dalam kegiatan edukasi kopi, Kamis (64/4) lalu, di Pekanbaru.

TRIPRIAU.com – Bagi sebagian penikmat kopi, mendapatkan ilmu tentang kopi sama menyenangkannya dengan menyeruput kopi itu sendiri. Maka, kelas-kelas edukasi kopi selalu dipenuhi wajah-wajah antusias para pecinta kopi.

Seorang barista bernama Ikhsan Nur Hadi (26) tengah bersiap dalam sebuah kelas edukasi kopi ‘dadakan’ yang digelar di sebuah coffee shop di bilangan Jalan Arifin Achmad, Pekanbaru, Kamis (6/4) sore. Dihadapannya – di atas sebuah meja – tersaji beberapa alat peracik kopi.

Di coffee shop yang bernuansa cozy itu hadir beberapa pecinta kopi. Beberapa laki-laki dan sebagiannya lagi perempuan. Tidak hanya expert dalam memahami kopi, beberapa diantaranya justru penikmat kopi pemula.  

Ikhsan tidak langsung menyentuh beragam alat di depannya. Dengan gaya khasnya, barista Nello Coffee Pekanbaru ini memulai dengan menyampaikan sejarah singkat kopi terlebih dulu.

‘’Kopi pertama kali ditemukan di Ethiopia. Saat itu seorang pengembala memerhatikan kambingnya sedang memakan sejenis buah. Anehnya, setelah memakan buah itu si kambing terus terjaga sepanjang malam,’’ cerita Ikhsan.

Cerita itu jadi pembuka jalan untuk masuk ke dalam keseruan proses meracik kopi sore itu. Ikhsan lalu mengenalkan alat di depannya satu-persatu. Mulai dari grinder, V60, aero space, hingga ketel leher angsa.

Kali ini, peserta edukasi kopi diajak untuk mengenal cupping kopi. Cupping merupakan proses untuk mengenali rasa kopi yang diracik oleh seorang barista.

‘’Tujuannya untuk mencari karakter rasa dan kualitas kopi,’’ terang Ikshan.  

Proses cupping diawali dengan menghirup aroma wangi kopi dari bubuk yang belum diseduh.

Proses selanjutnya menuangkan air panas bersuhu 95 derajat ke kertas penyaring yang telah dibubuhi kopi seberat 11 gram. Kali ini, Ikhsan menggunakan biji kopi arabika dari Cianjur.

Dia menuangkan air secara perlahan dari ketel leher angsa ke kertas penyaring dengan cara melingkar, lalu mengalir melewati V60 yang berbentuk kerucut itu.

‘’Tujuannya supaya aroma kertasnya hilang,’’ katanya.

Saat kopi mulai tergenang air panas, Ikhsan berhenti sejenak. Lalu mulai menuangkan lagi setelah genangan air yang menyelimuti kopi turun ke bawah.

Di sinilah terjadi proses ekstraksi pertama selama lebih kurang satu menit. Hingga kopi berhasil diseduh, Ikhsan melakukan sebanyak lima kali ekstraksi.

Ekstraksi bertujuan untuk melepaskan aroma kopi dan proses penguapan pori-pori. ‘’Untuk meningkatkan aroma kopi. Ketika karbon dilepas, maka aroma kopi akan muncul,’’ jelasnya.

Setelah beberapa saat, racikan kopi dengan teknik manual brewing ini siap diseduh. Seluruh peserta diberi kesempatan untuk mencicipi kopi hasil racikan Ikhsan.

Melakukan cupping pada kopi yang sudah jadi pun ada teknik tersendiri. Kopi diseruput tidak langsung dari gelas, tapi dari sendok. ‘’Sebenarnya ada sendok khususnya. Tapi sekarang kita pakai sendok biasa,’’ timpal Ikhsan.    

Proses menyeruput kopinya pun tidak sembarangan. Kopi diseruput dalam-dalam hingga berbunyi dan memenuhi rongga mulut dan menyentuh langit-langit.

Saat kopi menyentuh langit-langit inilah, kita dapat benar-benar merasakan karakter kopi sesungguhnya. ‘’Rongga mulut itu kepekaan dan langit-langit biasanya lebih sensitif,’’ tukasnya.

Secara umum, kopi hasil racikan sore itu menghasilkan karakter yang dalam istilah kopi biasa disebut dengan light alias lembut, ringan, dan clean.

Penulis: Rio Sunera  

Foto-foto: Mutia Nurul Rahmah

 



Tags:  -