Penyengat, Pulau Kecil dengan Sejuta Cerita Sejarah

By Trip Riau  |  17 Mei 2017 13:42:54 WIB  |  Tripnesia

Komplek Makam Engku Putri Hamidah di Pulau Penyengat. (Tika Azaria / tripriau.com)

“Belum ke Tanjungpinang kalau belum berkunjung ke Pulau Penyengat”

Begitulah ungkapan banyak orang jika berkunjung ke pulau Bintan. Dari Tanjungpinang hanya perlu menyeberang dengan perahu motor selama lebih kurang 15 menit untuk bisa sampai ke pulau Penyengat. Sebuah pulau kecil dengan sejuta cerita sejarah.

Tentu, wisata sejarah ke pulau Penyengat tak saya lewatkan ketika berkunjung ke Pulau Bintan pertengahan April lalu.

Cuaca pada hari itu, Kamis (13/4) sedikit kurang bersahabat, namun Saya tetap semangat untuk menjelajah pulau yang konon katanya merupakan maskawin  pernikahan Sultan Mahmud Marhum Besar dengan Engku Putri Raja Hamidah.

Tahu kenapa pulau ini dinamakan pulau Penyengat? Dulu pulau ini dikenal dengan nama Pulau Air Tawar, namun disebut penyengat setelah ada insiden pedagang yang singgah di pulau ini diserang penyengat.

“Dulu pedagang yang melintas lewat sini selalu mampir untuk mengambil kebutuhan airnya. Suatu waktu, ada pantang langgar yang dilarang, entah takabur atau buang hajat, mereka diserang penyengat tawon dan lebah,” cerita Hambali (53) warga setempat kepada tripriau (13/4) lalu.

Rute pertama ketika menjejakkan kaki di Pulau Penyengat adalah Mesjid Raya Sultan Riau Penyengat. Masjid yang didominasi warna kuning dan hijau ini tentu tak bisa dilewatkan begitu saja.

Di dalam masjid, kita bisa melihat al-quran yang ditulis tangan berusia sekitar 150 tahun oleh Abdurrahman, seorang penduduk Penyengat yang dikirim untuk sekolah ke Mesir oleh kerajaan Lingga.

“Sebenarnya ada dua Al-qur’an yang ditulis tangan, satu lagi lebih tua dan disimpan,” kata Hambali yang juga merupakan noje atau juru kunci masjid Raya Sultan Riau.

Banyak spot foto yang ‘instagramable’ di sekitaran masjid. Para rombongan yang ikut trip tentu tidak menyia-nyiakan berfoto ria demi update di media sosial.

Di depan masjid, banyak becak motor (bentor) yang mangkal. Becak motor ini merupakan transportasi khusus untuk berkeliling pulau Penyengat, jika tidak sanggup berjalan kaki menyusuri jejak-jejak sejarah kerajaan Lingga.

Bentor bisa dinaiki oleh 2 hingga 4 penumpang. Bentor yang Saya dan teman-teman tumpangi mulai bergerak melewati jalan-jalan Penyengat yang hanya cukup untuk dilewati satu Bentor saja. Jalan setapak diantara rumah-rumah warga ini kecil, sangat cocok untuk dijelajahi dengan berjalan kaki sambil mengamati kehidupan warga sekitar.

Banyak tempat yang penuh historis bisa kita kunjungi, seperti kompleks makam yang merupakan makam Engku Putri, Raja Ahmad, Raja AliHaji, dan makam raja lainnya. Setelahnya Saya berkunjung ke Balai Adat pulau Penyengat yang merupakan replika rumah adat Melayu Penyengat. Balai adat ini layaknya rumah panggung yang terbuat dari kayu.

Balai adat bisa dijadikan gedung untuk menggelar acara pernikahan. Uniknya, di dalam Balai Adat, ada pemain musik yang menghibur pengunjung yang datang.

Di bawah Balai Adat, ada sumur yang sudah tua dan menjadi satu-satunya air sumur yang bisa langsung dikonsumsi. Banyak yang datang kesini meminum air sumur atau hanya sekadar menyuci muka atau berwudhu. Tentu hal ini tidak Saya lewatkan. Saya juga ikut meminum dan mencuci muka dengan air dari sumur tua ini.

Mitosnya, jika air sumur ini diminum, orang tersebut akan kembali lagi ke Penyengat nantinya. Siapa yang tidak mau kembali ke pulau yang penuh dengan historis ini?

Menyusuri Penyengat tidak cukup satu atau dua jam saja. Meski hanya pulau kecil, tetapi cerita sejarah begitu banyak untuk didengar, dilihat, dan dinikmati. Pulau yang begitu asli, nyaman, dan jauh dari kebisingan. Tempat yang cocok sebagai pelarian dari lelahnya rutinitas sehari-hari.

Penulis: Tika Azaria

 



Tags:  -