Kisah Pak Hamsir dan Sate Lidah Sapi yang Legendaris

By Trip Riau  |  18 Mei 2017 15:14:24 WIB  |  Culinary

Pak Hamsir (66) sedang mengolah lidah sapi yang akan dijadikan sate. (Rio Sunera / tripriau.com)

TRIPRIAU.com – Saya hampir tak menyangka, sebuah pondok kayu sederhana di pinggir kali itu menyimpan sebuah hidangan lezat dan legendaris: Sate Lidah. Pemiliknya bernama Hamsir, pria 66 tahun, yang merintis usaha ini sejak 1978.

Aroma sate langsung menyeruak saat kaki baru saja menyentuh lantai papan pondok sate Pak Hamsir. Asap dari tempat pembakaran mengebul, lalu menembus dinding-dinding jendela kayu pondok sate lidah itu.

Dari luar, bangunan ini hanya tampak seperti kedai minuman biasa. Layaknya kedai di kampung-kampung tempat warga biasa menghabiskan segelas kopi atau teh sambil bercengkrama.

Matahari mulai merangkak naik saat seorang cucu laki-laki Pak Hamsir menyuguhkan seporsi sate di atas meja. Sementara Pak Hamsir duduk di hadapan saya ditemani secangkir teh. Dia bercerita banyak hal tentang sate buatannya. Hal ini sudah jadi kebiasaannya bila ada pelanggan datang ke pondoknya.

Sate di pondok Pak Hamsir disajikan terpisah. Lontong ketupat yang disiram kuah disajikan di atas piring kaca. Sementara dagingnya disajikan di piring lain. Di atas meja juga tersaji sebuah mangkuk berisi sambal.

Bagi penyuka pedas, sambal yang sedikit encer itu bisa disiramkan ke atas permukaan sate untuk menambah cita rasa. Tapi tanpa sambal itu pun, sate lidah ini sudah begitu menggigit di lidah.

Tiap suapan kuah dari sate buatan Pak Hamsir begitu ‘nendang’. Sebab racikan bumbunya pas. Kuahnya yang berwarna kuning kecoklatan mengalirkan rasa lezat di indera perasa. Sedikit rasa asam terasa menempel di lidah saat suap demi suap kuahnya masuk ke dalam rongga mulut.

Keistimewaan dari sate Pak Hamsir ada pada dagingnya. Pengolahan yang tepat pada bagian lidah sapi jadi rahasianya. Trik mengolah lidah sapi yang dimiliki Pak Hamsir mampu menghasilkan lidah yang empuk dan bebas dari bau amis. Ilmu ini dia dapatkan dari sang paman.

Selain daging sapi, bagian lidah sapi memang dikenal enak untuk diolah menjadi berbagai makanan lezat. Sebab, lidah sapi memiliki rasa gurih dan tekstur yang kenyal.

‘’Tapi kalau tak tahu cara mengolahnya, ya, lidah sapi jadi tak enak,’’ ujar Pak Hamsir.

Di tengah obrolan, Pak Hamsir pergi ke belakang dan kembali dengan membawa sebuah nampan. Di atas nampan itu tersaji lidah sapi yang sudah direbus, namun belum diberikan bumbu apapun.

Dia lalu mengiris sedikit lidah sapi itu dengan pisau lantas memberikannya pada saya. ‘’Coba dirasa,’’ pintanya.

Ternyata lidah sapi yang hanya direbus dan tanpa dilumuri bumbu itu terasa enak. Teksturnya kenyal dan tak menyisakan bau amis. Ketika sudah ditambahkan bumbu, rasanya tentu akan lebih enak.  

Tanpa terasa, sudah belasan tusuk daging sate dilahap. Tinggal menyisakan lidi-lidinya saja di atas piring. Prosesi mencicipi sate Pak Hamsir makin nikmat saat lidah sapi dilumuri kuah sate yang lezat, lantas diberi taburan bawang goreng asli.

Ada sekitar 20 tusuk sate yang disajikan di atas piring. Tapi biasanya pengunjung hanya membayar sesuai tusuk sate yang dihabiskannya saja. Satu tusuk sate dihargai Rp 2.000.   

Selain sate lidah, Pak Hamsir juga menyajikan sate ayam, jantung, dan usus. Sate ususnya tak kalah enak, bahkan sering mendapat pujian orang yang makan di sini. 

Tanpa Merek Dagang

Pak Hamsir membuka kedai satenya hampir tiap hari. Kelezatannya satenya bisa dinikmati dari pagi hingga malam. Sesuai kebiasaan masyarakat Kampar, sate bisa ditemui sejak pagi hari. Sebab, masyarakat di sana punya kebiasaan memulai hari dengan sarapan sate.

Sate buatan Pak Hamsir tidak dimasak sekaligus. Dia bisa memasak sate beberapa kali dalam sehari. Tiap kali satenya ludes, dia langsung ke dapur dan memasak kembali satenya.  

Pak Hamsir membuka pondok satenya di kawasan Pasar Rumbio, Kampar. Lokasinya di samping jembatan yang berdiri di atas sungai kecil. Dari jalan lintas Pekanbaru – Bangkinang, Pasar Rumbio hanya berjarak lebih kurang 100 meter.   

Bila sore datang, banyak para tetua kampung yang datang menyantap sate atau hanya sekedar menyeruput kopi dan teh. Biasanya mereka juga gemar menyantap Dadiah -- fermentasi susu kerbau – yang juga dijual oleh Pak Hamsir.

Sebelum di pondok yang sekarang, dulunya Pak Hamsir berjualan di sebuah gedung beton tua yang berada di Pasar Rumbio. Dari pondok satenya ini bangunan itu bisa terlihat jelas.

‘’Dulunya lagi saya jualan (sate) pakai sepeda,’’ katanya singkat. 

Tidak ada merek dagang atau plang nama yang menandai lokasi berjualan Pak Hamsir. Makanya, untuk menemukan pondok sate ini saya mesti bertanya pada warga setempat. Warga di sekitar pasar tentu saja tahu dan segera menunjukkan lokasi sate Pak Hamsir, sebab sate ini memang tenar di sana.

Bila bertanya pada warga sekitar, tanyakan saja lokasi ‘sate lidah’ atau ‘sate Pak Hamsir’.

Pondok sate milik Pak Hamsir sudah terlihat tua. Hal itu bisa dilihat dari dinding papannya yang sudah menghitam.

Penulis: Rio Sunera

    



Tags:  -