Cara L’Cheese Factory Membangun Pemasaran di Media Sosial

By Trip Riau  |  18 Mei 2017 20:50:31 WIB  |  Business

Gerai L'Cheese Factory  yang mengusung konsep dream, love and family. Foto: Abdul Ronny / tripriau.com

TRIPRIAU.com - Di era digital seperti sekarang, berbagi apa saja bisa dilakukan melalui media sosial. Tidak hanya berbagi informasi, jika jeli, sosial media bisa digunakan sebagai 'tools' pemasaran yang efektif.

Bila diperhatikan, ada banyak sekali usaha yang menjadikan media sosial sebagai platform untuk memasarkan produknya hingga dikenal oleh konsumen.

Salah satunya adalah L’Cheese Factory. Toko kue yang berlokasi di Jalan Durian, Pekanbaru ini terbilang sukses dalam menjalankan strategi social media marketingnya.

Brand Manager L’Cheese Factory Barumun Nanda menjelaskan, tidak semua bisnis bisa sukses dengan social media marketing.

“Harus tahu dulu target pasarnya siapa, sesuaikan dengan DNA bisnis yang dibangun,” ujar Nanda kepada Tripriau.com pada Kamis (18/5).

Toko kue dengan spesifikasi cheese cake ini mengincar target pasar anak muda rentang usia 15 hingga 20 tahun. Kelompok umur ini punya masalah ketika merayakan ulang tahun.

Menurutnya, jika 5 atau 6 tahun lalu ulang tahun dirayakan oleh perusahaan dan anak-anak dengan massa yang banyak dan kue yang besar, maka anak muda sekarang merayakan ulang tahun dengan konsep yang lebih sederhana.

Misalnya, dirayakan hanya dengan teman terdekat dan kue ulang tahun yang kecil.

Selain itu, ada juga anak muda yang 'anti mainstream' atau ingin kue yang berbeda ketika merayakan hari lahir.

Jika biasanya kue coklat, maka L’Cheese menawarkan varian berbeda, yakni cheese cake. Untuk menjawab keinginan pasar anak muda inilah L’Cheese Factory hadir.

“Generasi millennial rayain ulang tahun gak rame, jadi butuh kue yang ukuran kecil, itu sih yang coba ditawarin L’cheese,” terang Nanda.

Sesuai dengan DNA bisnis L’Cheese Factory ketika dibangun, yakni menyasar anak muda yang suka bikin konten lalu dibagikan di media sosial pribadi. Inilah yang coba dijangkau oleh toko kue ini melalui media berbagi foto Instagram.

“Sasarannya anak muda yang online, artinya mereka aktif di sosial media. Untuk menjangkau anak muda yang online ini, maka perlu pemasaran di sosial media,” terangnya.

Nanda menjelaskan, ada tiga kategori pasar yang memberikan pengaruh besar, yakni Youth, Women, dan Netizen. Ketiga kategori ini akan memengaruhi kategori lain yakni, Senior, Men, dan Citizen.

Ketiga kategori inilah yang coba dimanfaatkan oleh L’Cheese Factory dalam strategi pemasarannya.

Sehingga jika diamati akun Instagramnya, konten-konten yang diunggah adalah konten bercirikan anak muda. Tidak hanya foto produk atau info iven yang diadakan L’Cheese, tapi juga hal-hal berbau Pekanbaru.

“Anak muda suka hal-hal yang dekat dengan mereka, maka postingan di Instagram pun harus menggambarkan anak muda banget,” ujar Nanda yang pernah meraih Marketer of the Year  2015 silam.

Agar sesuai dengan konsep yang diinginkan, social media officer L’Cheese diberikan pelatihan terlebih dulu. Seperti dibekali pengetahuan mengenai DNA bisnisnya, visi misi perusahaan, dan peta bisnisnya seperti apa.

Kemudian, Social Media Officer bisa berkreasi membuat konten selagi masih dalam koridor yang ditentukan.

Persoalan lainnya yaitu, saat ini satu jenis kue yang diproduksi akan lebih cepat 'mati'.

Nanda mengaku jika dulu satu jenis kue bisa bertahan hingga 2 tahun, sekarang bisa digemari hingga enam bulan saja.

Hal ini karena gencarnya promosi di media sosial, membuat konsumen cepat bosan dan menginginkan hal yang baru lagi.

“Cara mengatasinya, bisa dengan berinovasi membuat jenis kue baru. Atau jenis kue yang sudah ada diberhentikan dulu produksinya, lalu beberapa bulan setelahnya baru diproduksi lagi,” cerita Nanda.

Hal yang menjadi perhatian Nanda sekarang adalah bagaimana agar konsumen bisa teredukasi membedakan jenis-jenis cheese yang ada. Karena sampai saat ini para konsumen tidak tahu rasa keju yang asli dan tidak bisa
membedakan rasa keju premium dengan yang biasa.

“Memberikan edukasi ini cukup sulit ya, butuh usaha ekstra. Tapi perlahan harus dicoba,” akunya.

Agar strategi pemasaran sosial medianya t erintegrasi, L’Cheese punya “Creative Club” yang berbagi ide kreatif bagi siswa SMA yang tergabung dalam organisasi intra sekolah. Di klub ini disediakan mentor yang 'expert' dibidangnya.

“Mentornya ada blogger, youtuber, fotografer, dan lainnya. Di sini kami menyediakan wadah untuk pembinaan agar siswa SMA bisa terus berpikir kreatif,” tutup Nanda.

 

Penulis: Tika Azaria

Editor: Rio Sunera

Baca juga "L'Cheese Factory: Menjual Kue dan Momen"

 



Tags:  -