Rumah Kapitan, Daya Tarik Wisata Heritage di Bagansiapiapi

By Trip Riau  |  22 Mei 2017 10:56:34 WIB  |  Wisata Riau

Rumah Kapitan, salah satu tujuan wisata heritage di Bagansiapiapi. (Bayu Amde Winata)

TRIPRIAU.com – Tidak rugi datang ke Bagansiapiapi. Nuansa klasik dalam ragam warisan arsitektur bernilai sejarah jadi bukti, bahwa kota ini menyimpan kejayaan masa lalu.

Matahari bersinar cukup terik saat seorang pria berkulit putih menerima beberapa orang tamu di sebuah rumah tua di kota Bagansiapiapi, Rokan Hilir, Riau. Sambil menunjukkan beberapa foto dari gawainya, dia sibuk melayani berbagai pertanyaan para tamu.

Tono, nama laki-laki itu, merupakan generasi kelima dari Kapitan, yang rumah peninggalannya dipenuhi tamu siang itu. Rumah tua itu sekarang jadi bagian penting wisata heritage di kota Bagansiapiapi.

‘’Keluarga akan mencoba merehabilitasi rumah ini,’’ kata Tono singkat.

Rumah Kapitan berada persis di belakang Hotel Lion. Diapit oleh deretan rumah orang Tionghoa bergaya lama. Bila dari Kelenteng Ing Hok Kiong, terus saja menyusuri Jalan Kelenteng. Melewati sebuah perempatan, lalu berbelok ke kiri di sebuah gang kecil.

Rumah Kapitan tampak begitu klasik. Halamannya ditumbuhi hamparan rumput hijau. Dari pinggir jalan, langkah kaki menapaki jalan beton selebar setengah meter hingga menyentuh beranda rumah.

Sejak burung walet yang memang banyak bertebaran di Bagansiapiapi mulai masuk ke Rumah Kapiten, Tono dan keluarga tidak lagi menempati rumah itu. Mereka pindah ke area di belakang. Dari sela-sela kayu Rumah Kapitan, tempat tinggal keluarga Tono bisa terlihat jelas.

‘’Awalnya kami tinggal di sini. Tapi sejak banyak walet masuk, kami pindah ke belakang,’’ tutur Tono.

Menurut Tono, walet masuk dari ruang udara atau ventilasi yang ada di rumah itu. Sehingga tidak memungkinkan baginya dan keluarga untuk terus tinggal di rumah yang syarat sejarah itu.

Siang itu, Tono menerima tamu di ruang paling depan Rumah Kapitan. Di ruang ini masih ada sisa-sisa barang peninggalan Kapitan. Salah satunya sebuah piano tua buatan Jerman. Sebagian tuts-tuts-nya sudah rusak tapi masih tampak utuh. Di piano itu tertera sebuah tulisan ‘’Zeitter N Winkelmann Braunschweig’’.

Selain piano tua itu, beberapa barang peninggalan Kapitan masih bisa ditemui di rumah ini. Seperti, meja dan kursi, tempat sembahyang, serta kursi santai dari kayu yang diletakkan di dinding bagian kiri.

Di dinding pembatas yang menghubungkan ruang depan dan belakang, terpajang dua bingkai foto dengan koleksi foto yang sudah dicopot. Tono mengaku tidak mengetahui foto siapa yang sebelumnya terpajang di bingkai tersebut.

Rumah Kapitan memiliki empat bilik kamar. Dua berada di ruang depan, sementara dua lagi berada di ruang belakang. Dinding yang menyekat kedua ruangan ini memiliki dua buah pintu. Di atas masing-masing pintu itulah terpajang dua bingkai foto tadi.

Saat tripriau.com dan peserta program Bagan Heritage datang ke rumah itu, Tono sempat membuka bilik kamar di ruang depan. Di ruang berukuran sekitar 4 x 4 itu terdapat sebuah tempat tidur,

Menurut catatan tim Bagan Heritage, Rumah Kapitan merupakan salah satu bukti keberadaan kapitan Tionghoa yang menjadi pemimpin lokal untuk orang-orang Tionghoa.

Rumah ini sudah berdiri pada akhir abad ke-18. Pada saat industri perikanan menjadi sumber pendapatan daerah ini, Kapitan Tionghoa di Bagansiapiapi diberikan hak oleh Belanda untuk melakukan kontrol perdagangan. Kontrol perdagangan ini berkembang menjadi monopoli dalam bisnis.

Dalam catatan Belanda, pada tahun 1908, mantan Kapitan Bengkalis Oey I Tam memiliki hak monopoli garam di Kota Bagan, bersama Tjong A Fie, kapitan Tinghoa di Medan.

Mereka memonopoli masuknya garam dari Singapura bahkan Mesir ke kota Bagan. Belanda mencatat, pendapatan bersih Oey memonopoli garam pada tahun 1908 sebesar 112,000 Gulden.

Penulis: Rio Sunera

 

 

 

 

 



Tags:  -