Susur Sungai, Pengalaman Wisata Paling Seru di Sungai Kopu

By Trip Riau  |  18 Juli 2017 14:24:15 WIB  |  Wisata Riau

Menyusuri Sungai Kopu. (Muhammad Ridho / tripriau.com)

TRIPRIAU.com – Kami sampai di Mandiangin saat matahari mulai meninggi. Jarum jam hampir menunjuk angka 12 siang. Awalnya, setiba di Mandiangin, kami ingin langsung bertolak ke Sungai Kopu.

Namun, rencana sedikit berubah. Lebih baik melepas waktu Zuhur dan makan siang dahulu di Mandiangin. Sebelum berperahu ke arah hulu.

Di rumah makan Mandiangin, beragam hidangan sudah berjejer di etalase. Seakan memanggil-manggil untuk segera disantap dan memenuhi rongga perut yang mulai kosong.

Seperti biasa, hari itu, si pemilik rumah makan menyajikan menu khas olahannya. Ada salai patin gulai, ayam bakar, ikan tuakang bakar, dan tentu saja menu paling favorit asam pedas baung dan gulai ikan tebinggalan.

Asam pedas baungnya terasa istimewa. Diolah dengan rempah yang kaya dan berlimpah. Ikannya juga segar, sebab diambil langsung dari sungai di sekitar Mandiangin.

Saat menyantap kepala baungnya, saya ketagihan menyesap kuahnya. Menghirupnya dalam-dalam. Lalu pelan-pelan merasakan kenikmatannya dengan indera perasa terbaik saya. Cita rasanya lezat dan lidah diajak bergoyang-goyang.

Rasa-rasanya, asam pedas baung di sini tak kalah dengan yang disajikan restoran-restoran melayu di Pekanbaru yang harganya lumayan ‘menguras’ kantong.  

Oh ya, Mandiangin ini sebuah tempat makan di tepian sungai Kampar. Lokasinya di Desa Tanjung, Kecamatan Koto Kampar Hulu, Kabupaten Kampar.

Bangunannya sederhana. Pemiliknya bernama Hendri, yang mengelola rumah makan ini sejak lima tahun lalu. Diantara rindangnya pepohonan di tepi sungai, Hendri membangun sebuah kedai kecil dari kayu. Ditambah beberapa buah pendopo tempat pelanggannya menyantap hidangan.

Sesaat setelah duduk bersila di pendopo, makanan pun datang. Nasi putih disajikan dalam mangkuk, ditambah sambal hijau dan sambal merah sebagai pelengkap. Ada juga pucuk ubi rebus yang disajikan dalam pinggan kecil.

Makan siang kami kala itu terasa sangat nikmat. Ditemani semilir angin menerpa tubuh. Pemandangan sungai yang dihiasi bentang perbukitan hijau membuat makan makin lahap.

‘’Cabai hijaunya enak, bisa minta tambah lagi gak?,’’ ujar salah satu rekan yang ikut serta dalam rombongan tur pegiriau dan JCI Chapter Pekanbaru beberapa waktu lalu.

Hendri kemudian datang dengan dua piring cabai hijau di tangan. ‘’Ada lagi yang mau ditambah?,’’ dia balik bertanya. 

Setelah makan, tiba saatnya menyusuri keindahan Sungai Kopu. Hanya butuh waktu sekitar 10 menit berperahu menuju Sungai Kopu. Rupanya, hanya sebuah perahu yang tertambat di tepian Mandiangin yang bisa digunakan. Dengan kapasitas 10 orang untuk satu perahu, rombongan terpaksa dibagi dua.

Rombongan pertama sudah bersiap di atas perahu saat Pak Unus menarik engkol dari mesin kapal berkekuatan 25 PK. Sekali tarik..plung..tali pengikat engkol terlepas ke dalam sungai. Sementara deru suara mesin belum lagi terdengar. Mesin terpaksa harus dibongkar agar kembali bisa diengkol.  

Hampir setengah jam menunggu, mesin kembali menyala. Perahu berjalan pelan, diiringi lambaian tangan dari rombongan kedua.

Kata Hendri, kondisi air lagi bagus-bagusnya. Tidak dalam dan juga tidak dangkal. Perahu terus melaju di tengah deru mesin dan pemandangan hijau di sekeliling sungai.

Hampir semua rombongan di dalam perahu memegang gawai. Masing-masing seakan berlomba mengabadikan tiap momen dan keindahan yang disajikan alam Desa Tanjung. Ada yang merekam dalam format video, ada juga yang mendokumentasikan dalam bentuk foto.

Tak lama, perahu yang dikemudikan Pak Unus sedikit berbelok ke arah kiri. Sungai yang kami lewati semakin menyempit. Airnya berwarna kehijauan. Tak ada lagi pemandangan bukit-bukit hijau.

Pemandangan berganti menjadi deretan batu-batu curam nan eksotik di sisi kiri dan kanan. Bebatuan itu menjulang ke atas, seakan mengepung perahu kecil kami yang berjalan pelan dipermukaan sungai. Kepala harus menengadah untuk bisa melihat ujung dari bebatuan tersebut. Di beberapa sisi, permukaan bebatuan tampak ditumbuhi beragam tumbuhan.

Inilah bentang keindahan Sungai Kopu. Orang biasa menjuluki dengan sebutan ‘Grand Canyon’nya Riau. Mengacu pada ngarai tebing terjal dengan ukiran sungai Colorado yang berada di utara Arizona, Amerika Serikat. Dilihat dari bentuknya, keduanya memang terlihat mirip.

Perahu kami terus melaju diantara kekaguman akan eksotisme Sungai Kopu. Pak Unus sedikit melambatkan laju perahu saat kami berselisih dengan perahu penduduk lokal yang datang dari arah berlawanan.

Tidak berapa lama, perahu berhenti di sebuah air terjun. Namanya, air terjun batu hidung. Air terjun ini mengalir dicelah bebatuan dan tebing terjal. Debitnya tidak terlalu besar saat itu. Air terjun ini disebut batu hidung karena ada permukaan batu yang menyerupai hidung.

Tidak memungkinkan untuk menikmati tumpahan kesegaran air terjun batu hidung. Sebab, tebingnya sangat curam. Sementara tidak ada ruang di bebatuan sekitar air terjun untuk tempat berdiri.

Pak Unus lalu memacu parahu dan membawa kami menuju air terjun ladiang. Ladiang dalam bahasa setempat berarti parang. Disebut demikian karena ada permukaan batu yang bentuknya menyerupai parang. Di air terjun inilah kami bisa bersimbah air terjun sepuasnya.

Penulis: Rio Sunera

 



Tags:  -