Merawat "Besesambou", Sastra Lisan dari Sekijang

By Trip Riau  |  28 Juli 2017 17:41:16 WIB  |  Feature

Penampilan sastra lisan Besesambou siang itu merupakan bagian dari program revitaliasi sastra lisan berbasis komunitas yang dilakukan Badan Pengkajian dan Pembinaan Bahasa Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia, 13-17 Juli 2017 lalu.  Foto: Abdul Ronny / tripriau.com

TRIPRIAU.com - Terpaan ekologis menggerus kekayaan budaya di Kampung Sekijang. Sastra lisan Besesambou yang hidup sejak ratusan tahun lalu mulai kehilangan eksistensi. Momentum revitalisasi dan regenerasi jadi titik berangkat, bahwa Besesambou akan tetap ada dan lestari.

Seperti merapal mantra, untaian kalimat-kalimat indah keluar dari bibir Amril (31) disebuah gedung madrasah di Desa Sekijang, Tapung Hilir, Kabupaten Kampar. Meski tanpa teks, kata demi kata meluncur lancar dari mulutnya.



Dibimbing seorang protokol, prosesi siang itu berjalan khidmat. Gedung berhias tirai kebesaran melayu tampak penuh. Kepala desa, para ninik mamak, cerdik pandai, alim ulama, tokoh masyarakat, hingga para pemuda duduk berjejer.

Siang itu jadi hari penting bagi masyarakat Sekijang. Tradisi Besesombou yang sudah 20-an tahun menghilang akhirnya bisa disaksikan kembali. Tidak heran, antusias warga terlihat begitu luar biasa.

Sejak pagi kaum bapak, ibu, tua dan muda mulai memadati halaman madrasah yang teduh dengan pohon-pohon yang tumbuh di atasnya.

Penampilan sastra lisan Besesambou siang itu merupakan bagian dari program revitaliasi sastra lisan berbasis komunitas yang dilakukan Badan Pengkajian dan Pembinaan Bahasa Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia, 13-17 Juli 2017 lalu.



Hari itu, tidak hanya seni bertutur Besesombou yang ditampilkan. Secara sukarela masyarakat tempatan juga menghadirkan tradisi arak-arakan pengantin hingga pencak silat.

Acara berlangsung meriah namun khidmat dalam durasi hampir tiga jam. Acara ditutup dengan makan bersama yang di Kampar dikenal dengan makan bajambau.

Dr Fatmahwati, tim peneliti dari Balai Bahasa Riau yang ikut serta pada program tersebut menyampaikan, Besesombau dapat dikategorikan sebagai sastra lisan berbahasa daerah.

"Sastra lisan merupakan pertunjukan seni bertutur yang menyampaikan gagasan, maksud, dan pemikiran dalam sebuah acara adat," ungkapnya.

Menurutnya, sastra lisan ini sarat dengan etika dan estetika. Besesombou menunjukkan kearifan dan kesantunan berbahasa yang tinggi.

"Namun, faktor ekologis dengan maraknya perkebunan kelapa sawit, masuknya pendatang, serta perubahan-perubahan yang terjadi di Desa Sekijang membuat budaya ini mulai tersingkirkan," jelasnya.



Salah satu cara yang dilakukan untuk merawat tradisi ini adalah dengan melibatkan masyarakat secara penuh. Besesombou harus kerap ditampilkan dalam berbagai helat yang diadakan masyarakat. Misalnya saja saat pesta perkawinan.

Regenerasi juga harus dilakukan. Sebab, saat ini tinggal dua orang di kampung Sekijang yang menguasai tradisi ini.

"Saat Besesombou ditampilkan kemarin, ada sebanyak 24 orang anak muda Sekijang yang dilibatkan. Mereka inilah penerusnya," kata Fatma.

Penulis: Rio Sunera



Tags:  -