Miso "Manuk londo" di Warung Miso Pak Imam, Mau Coba?

By Trip Riau  |  09 Agustus 2017 09:35:40 WIB  |  Culinary

Miso Pak Imam yang berlokasi di Jl. Paus, Pekanbaru. Foto: Abdul Ronny / tripriau.com

TRIPRIAU.com - Hujan melanda Pekanbaru dari tengah hari hingga menjelang sore, Selasa kemarin. Bagi saya, menyantap yang hangat, berkuah, dan pedas selalu jadi pilihan wajib saat cuaca dingin begini.

Saya ingat rekomendasi seorang kawan beberapa waktu lalu. Katanya, ada soto betawi enak di kantin kantor Gubernur Riau.

Dari Jalan Gatot Soebroto, langsung saja saya meluncur ke arah Sudirman. Hujan masih turun perlahan. Sampai di sana, tempat yang dituju ternyata tutup.

Akhirnya saya cari alternatif. Mencicipi semangkuk Miso Pak Imam sepertinya seru juga.

Saya pernah mencicipi miso ini beberapa waktu lalu. Saat itu mereka buka stand di sebuah bazar di Masjid Agung An-Nur. Rasanya lumayan melekat di lidah.



Membonceng teman, kendaraan langsung saya arahkan ke Jalan Paus, di warung jualannya Pak Imam.

Miso Pak Imam ini menawarkan berbagai varian miso, soto, hingga ayam dan burung puyuh penyet.

Ada sekitar enam varian miso yang ditawarkan. Mulai dari miso ayam, miso ayam kampung, miso hati ampela, miso ceker sup, miso ceker kriuk, dan miso malon.

Penasaran, saya memesan miso malon. Malon ternyata kepanjangan dari "manuk londo" alias burung bule.

Kenapa burung bule? Si mbak yang melayani saya bilang, "Malon ini merupakan burung puyuh dari Perancis yang dikembangbiakkan di Jogja".

Katanya, dibanding burung puyuh biasa, daging si malon ini lebih banyak. Selain itu, bila dibandingkan dengan bebek, proteinnya juga lebih tinggi. Sementara kolesterolnya lebih rendah.

Tanpa lama menunggu, seorang karyawan laki-laki hadir dengan dua mangkuk hidangan. Satunya miso malon pesanan saya, satunya lagi soto ayam pesanan teman.

Tampilan soto ayam di atas meja agak pekat, sementara miso pesanan saya memiliki tampilan kuah yang agak cerah.

Selebihnya, di dalam mangkuk putih itu ada mie kuning dan putih, irisan daun sop, kerupuk merah, dan tentu saja si malon tadi.

Kebiasaan saya, mungkin juga kebanyakan orang, yakni mencicipi kuah aslinya. Yang belum ditambahkan kecap, saos, ataupun sambal.



Bagi lidah saya ini enak. Rasa rempahnya kuat, hingga meninggalkan jejak di lidah. Tapi dalam bayangan saya, kuah miso yang sempat saya cicipi sebelumnya punya kuah yang lebih pekat. Dan rasanya juga sedikit lebih berkarakter. Oh, mungkin varian yang dipesan berbeda.

Bagaimana burung puyuhnya? Enak, empuk, gurih, dan punya rasa yang kuat di lidah.

Perlahan, suap demi suap kuah miso ini terus menyentuh lidah. Tak terasa, sudah hampir setengah kuahnya ludes. Miso seharga Rp 17 ribu per porsi yang saya santap ini cukup berhasil memanjakan lidah di sore yang beku.

Disalah satu sudut warung miso Pak Imam tertera tulisan, "Kelezatan kuah rempah asli, tanpa santan setetespun".

Yah, dengan segala kekurangan dan kelebihan indera perasa saya, Miso Pak Imam, bolehlah.

Untuk info lokasi Miso Pak Imam silahkan klik gambar berikut (Google Maps).

 

Penulis: Rio Sunera



Tags:  -