Ricky Ariandi

Menanam Manfaat dari Langkanya ‘Buah Surga’

By Trip Riau  |  13 Agustus 2017 22:16:40 WIB  |  Business

Ricky Ariandi pembudidaya buah tin di Pekanbaru. Foto: Abdul Ronny / tripriau.com

TRIPRIAU.com - Tanaman tin masih terhitung langka di Pekanbaru. Pembudidayanya juga belum banyak. Salah satunya Ricky Ariandi, yang mencoba peruntungan bisnis 'buah surga' ini setahun lalu.

Sebagai komoditas, buah tin yang bernama latin Ficus carica memang belum banyak dikenal. Selain itu, para petani dan penghobi tanaman juga masih jarang melirik buah dengan rasa manis ini. 

Di lahan seluas 1.000 meter persegi di Jalan Melur, Panam, setahun lewat, Ricky memulai misinya. Secara bertahap, dia mulai bercocok-tanam tin. Sekarang, sudah ada sekira 400-500 batang tanaman tin yang dikembangkan di lahan miliknya. 

Ilmu bercocok tanam tin didapatnya dari berbagai referensi. Termasuk dari komunitas dan penghobi tin di Pekanbaru yang telah lebih dulu berkutat dengan tanaman ini. 

Saat ini, ada 15 varian tin yang coba dikembangkan Ricky di lahan yang berdampingan dengan area bisnis perumahannya.

Di kebun tin milik Ricky, hamparan pohon tin jadi pemandangan menarik. Dengan tinggi sekitar 1,5 meter, tin dikembangkan pada media tanam polybag.

Kepada tripriau.com, sarjana pertanian Universitas Padjajaran Bandung ini menyampaikan, faktor kebermanfaatan dan masih langkanya buah tin jadi alasan utama dia serius mengembangkan buah berwarna kemerahan ini. 

‘’Saya juga mempelajari faktor kelangkaan. Kalau kita belajar ilmunya, kan, sesuatu yang langka itu mahal. Selain manfaat pastinya,’’ terang Ricky.

Apalagi tin merupakan salah satu buah yang disebut dalam Al Quran. Tepatnya pada surat At-Tin. Bahkan dalam Al Quran, buah ini disebutkan berasal dari surga.

"Biasanya kita tau ada kurma, delima yang berasal dari Arab. Kalau tin dan zaitun masih jarang dan familiar di Indonesia," jelasnya. 

Dengan alasan tersebut, dirinya mulai tertarik hingga akhirnya bertemu dengan komunitas dan penghobi tanaman tin lainnya di Pekanbaru.  "Ternyata sudah ada beberapa saat itu (yang menanam tin). Dari situ makin yakin dengan tin, bahwa tanaman itu memang bisa berbuah di Indonesia," kata Ricky.

Pertanyaan selanjutnya yang muncul, apakah tin bisa berbuah di Pekanbaru? Lalu, apa rasanya enak?

"Kalau berhasil berbuah, terus rasanya gak enak orang juga gak mau konsumsi. Karena dua hal itu, bisa berbuah dan bisa dikonsumsi jadi berminatlah untuk mengembangkannya," ujarnya. 

Untuk peluang bisnis, Ricky mengaku, dirinya belum bisa mengira berapa produksi yang bisa dihasilkan dalam luasan tertentu. "Jadi, belum tahu," sambungnya.

Namun, dia berfikir, peminatnya cukup banyak. Sebab semua orang muslim pasti ingin mencoba tin. 

"Itu yang kita pikirkan. Sama dengan orang pengen mencoba buah kurma, terutama saat puasa," katanya saat ditemui di lokasi kebunnya, Jumat (11/8).

Saat ini Ricky tengah fokus untuk belajar segala hal tentang tin. "Gimana pertumbuhaan bisa lebih baik, hamanya gimana, cari solusi seperti apa. Tapi, masih jadi 'PR' kita menghasilkan produksi yang maksimal. Banyak yang harus dikembangkan," sebut Ricky yang juga seorang pengembang perumahan ini. 

Ricky menambahkan, tantangan terbesar mengembangkan tin di Pekanbaru adalah kecocokan iklim. Sehingga sampai saat ini belum mendapatkan kualitas buah yang maksimal.

Dia menyebut, kalau di Malaysia yang beberapa tahun di depan dalam pengembangan tin, proses pengembangan sudah menggunakan rumah kaca.

"Jadi produksi, pengaturan suhu, dan faktor lingkungan lainnya itu sudah diatur," bebernya.

Saat ini, tanaman tin milik Ricky sudah mulai berbuah. Meski belum bisa dijual secara reguler.

"Masih coba-coba dijual. Kalau ada produksi berlebih kita coba tawarkan. Kondisi sekarang belum cukup memadai," sebutnya.

Buah tin memang dikenal punya segudang khasiat dan manfaat. Bila ditelusuri melalui pencarian di internet, bisa ditemui banyak laman yang memaparkan manfaat buah yang berasal dari tanah Arab ini.

Penulis: Rio Sunera



Tags:  -