Sate Kampar, Antara Sejarah dan Cita Rasa

By Trip Riau  |  03 Februari 2018 14:54:41 WIB  |  News

great

Tripriau.com - Tidak ada yang tahu bagaimana sejarah Sate Kampar yang punya perbedaan dari sate daerah lainnya. Ciri khas inilah yang membuat sate Kampar menjadi kuliner andalan yang disantap ketika berkunjung atau sekadar melewati Kabupaten Kampar.

Sore itu, Tripriau.com berkesempatan berbincang dengan Hamsir di warung sate miliknya di Pasar Rumbio. Ia merupakan salah satu penjual sate yang bisa dikatakan paling lama di daerah Kampar, khususnya di daerah Penyasawan dan sekitarnya. Sate Pak Hamsir ini juga sudah terkenal bagi kalangan pecinta sate. Bahkan pejabat pemerintahan di Riau hingga masyarakat luar kota juga sering berkunjung ke warung kayu miliknya untuk memanjakan lidah menikmati satenya.

Jika ditelisik, susah untuk mengetahui sejarah pasti asal mula resep sate Kampar. Hamsir yang sudah mulai berjualan sejak tahun 1978 silam saja tidak tahu bagaimana sejarahnya. Namun, resep sate 'hits' beliau sekarang merupakan resep turunan dari Pamannya. Hamsir tidak pelit ilmu. Sebut saja sate terkenal lainnya, ‘Ocu Iman’, merupakan anak didik Hamsir. Dan banyak lagi penjual sate di daerah sana yang merupakan hasil didikan Hamsir.

Sejak dulu Hamsir memang mempunyai hobi dibidang masak-memasak. Hamsir melihat waktu itu masih jarang orang berjualan sate. Dia lalu meminta diajarkan membuat sate kepada sang Paman atau di Kampar biasa dipanggil 'Mamak'.

"Dulu jarang yang jual sate, saya ikut minta ajarin sama Mamak (paman). Kebetulan jiwa saya suka memasak," cerita Hamsir kepada Tripriau.com, Minggu, 21 Januari 2018 lalu.

Hamsir memilih berjualan dan memperdalam hobi memasaknya daripada sekolah. Dari mulai berjualan martabak ke berbagai daerah, jualan pecel, jualan sup hingga kemudian berjualan sate hingga sekarang.

Namun, jelas sate Kampar dengan sate daerah lainnya sangat berbeda. Tau perbedaan paling mencolok dari segi apa? Dagingnya! "dagingnya, daging sate kampar lebih lembut dari sate lain," ujar Hamsir sambil duduk menemani Saya dan pengunjung lain yang ada di warung kayu miliknya.

Kelembutan daging ini karena proses perebusan daging yang lama, memakan waktu hingga 3-4 jam menggunakan api kayu. Sementara setelah proses perebusan, pembuatan kuah hingga penyajian hanya butuh setengah jam hingga 1 jam saja.

Dari segi bumbu sebenanya hampir sama dengan bumbu sate kebanyakan. Ada jahe, kunyit, bawang putih, daun bawang, lengkuas, daun sup, bawang merah untuk bumbu saat pembakaran satenya.

Perbebedaannya, sate Kampar menggunakan cabe merah yang digiling, tidak menggunakan cabe rawit ataupun lada. Sebab itu akan memberikan rasa pedas yang gak alami. Namun, Kata Hamsir, sekarang sudah banyak sate di daerah Kampar yang kuahnya menggunakan cabe rawit.

Sate Kampar juga tidak menambahkan santan untuk kuahnya. Kata Hamsir itu akan membuat rasa 'eneg'. "Kita gak pake santan. Dulu pernah pakai, tapi sekarang udah gak lagi. Cuma agak terlalu 'eneg', juga bikin tensi naik," lanjutnya berceritanya menggunakan bahasa Ocu.

Hana Hartina, mahasiswa berusia 21 tahun yang merupakan warga Penyasawan dan pada saat ditemui mengaku lebih suka sate Kampar karena memang rasa kuah yang berbeda. "Apa sih, agak lebih cair gitu. Warnanya juga beda. Kalo sate Padang warnanya agak pucat gitu," ujar Hana di warung Sate Lidah Pak Hamsir pada Minggu, 21 Januari 2018.

Hana bercerita Ia suka sate Kampar saat disantap dengan rasa kuah original. Menurutnya saat itulah lidahnya bisa menentukan rasa sate Kampar yang enak atau yang tidak. "Makannya tanpa tambahan sambal, dan tambahan lainnya. Jadi tau bumbu-bumbunya pas atau enggak," jelasnya.

Hana setuju jika Sate bisa dijadikan salah satu kuliner ikonik dari Kampar dengan ciri khas yang dimilikinya. Tapi, dengan syarat jika penjual sate tetap bisa mempertahankan ciri khas tersebut.

"Bisa lah, tapi jika cita rasa itu bisa dipertahankan. Karena itu penting. Jika sama saja, ya, apa bedanya." sebut generasi millenial itu.

Penulis: Tika Azzaria

Editor: Rio Sunera



Tags:  -