Makna Dadiah dalam Adat Kampar

By Trip Riau  |  03 Februari 2018 15:01:06 WIB  |  News

Dadih. Tripriau.com

Tripriau.com - Suka makan dadiah? Itu loh, fermentasi susu kerbau segar yang dimasukkan ke dalam bambu dan dimakan dengan kuah gula merah dicampur santan. Nah, di Kampar biasanya itu disajikan saat pesta pernikahan.

Jadi, dadiah itu disandingkan dengan nasi dan berbagai jenis lauk saat makan 'bajambau'. Atau istilahnya makan bersama di dalam rumah pengantin dan dihidangkan dalam 'dulang' dalam satu hidangan.

Dadiah ini sudah menjadi tradisi untuk selalu hadir pada acara pesta perkawinan sesuai tradisi adat Kampar. Menurut Hamsir, tetua yang juga berjualan sate Kampar di pasar Rumbio sejak tahun 1978 lalu, menyebut itu merupakan tradisi adat.

Hamsir bercerita, dulu ketika Ia menjadi pengantin baru dadiahnya tidak dimasukkan ke dalam dulang. "Itu adat tradisinya. Dulu dinjinjing seikat gitu.

Sekarang dimasukin ke dulang nasi dengan sambal, (lauk)," jelasnya saat mengobrol dengan Trip Riau di warung satenya di Pasar Rumbio, Minggu, 21 Januari 2018.

Namun, ada maknanya. Dadiah yang berwarna putih menjadi lambang kesucian. "Tradisi kita dulu, harus pakai ini. Ibarat keadaan, ini kan (dadiah) putih bersih, begitulah bersihnya pengantin baru," cerita pria 66 tahun itu.

Susu kerbau tersebut hanya bisa mengeras dan jadi Dadiah hanya dalam bambu, tidak bisa di tempat lain. "Air susu itu dalam bambu bakal diserap, lalu tinggal susu dalam bentuk bekunya," ujar Hamsir.

Proses pembekuan itu tidaklah lama, hanya butuh waktu satu malam saja. Jadi, susunya memang lebih segar. Jika menyantap Dadiah, enaknya diaduk hingga bercampur dengan kuahnya. "Enaknya diaduk. Kadang makannya pakai nasi, tapi itu biasanya di pesta sih," lanjutnya.

Selain bisa menikmati sate lidah khas Kampar yang memanjakan lidah penikmatnya, di warung Sate Pak Hamsir juga bisa menikmati dadiah dengan kuah dan emping melinjo.

Dadiah di sini bukan buatan Hamsir, melainkan pihak lain yang menitipkannya. Namun, kuah dan tambahan lain merupakan resep asli dari warung sate ini. Untuk menikmati Dadiah di sini, kamu cukup merogoh kocek 15.000 rupiah saja. Murah, kan?

Penulis: Tika Azzaria

Editor: Rio Sunera

 



Tags:  -